Sisi Kelam Masa Muda Cristiano Ronaldo

Siapa yang tidak kenal Cristiano Ronaldo? Pemain timnas Portugal ini telah menjadi bintang utama di dunia sepak bola sejak menginjakkan kaki di Old Trafford pada 2003 silam.

Karier menterengnya ditandai dengan segudang trofi, rekor, penghargaan, prestasi pribadi, dan uang yang sangat banyak, hingga konon, beberapa generasi mendatang dari keturunannya, akan bisa hidup bermewah-mewah tanpa harus membanting tulang. Meski begitu, awal hidup Ronaldo termasuk sederhana dan cukup menyedihkan.

Hidup Miskin Hingga Kelainan Jantung

Bocah miskin dari Kepulauan Madeira ini, dengan cepat meraih popularitas dan bekerja sangat keras untuk mengukir namanya di panggung olahraga paling populer sedunia ini. Dirinya telah memenangi lima gelar Liga Champions Eropa bersama Real Madrid dan Manchester United dan telah diakui sebagai pemain terbaik dunia, selama lima kali.

Sepanjang karier, apabila dibutuhkan Ronaldo mampu mengadaptasikan gaya bermainnya agar bisa terus berada di puncak permainan. “Agar tetap berada di level ini, kau harus berkorban,” katanya saat diwawancarai The Mirror. Di usia 36, dia masih terus meraih gelar dan memecahkan rekor.

Ronaldo bertumbuh di lingkungan yang miskin, dengan rumah bata beratap seng. Karena kesulitan yang dialami keluarganya sebelum dirinya dilahirkan, ibunya, Dolores, sempat mempertimbangkan untuk menggugurkannya. Ayahnya, Aveiro, juga bekerja sebagai tukang di CF Andorinha, sebuah tim sepak bola dari Santo Antonio, Funchal. Calon bintang tersebut sering menemani ayahnya saat bekerja.

Selama bekerja di Andorinha, Aveiro berteman dengan, Fernao Barros Sousa, yang kala itu merupakan kapten CF Andorinha. Sousa mengatakan bahwa Ronaldo selalu ingin bermain bola tiap ada kesempatan. Ronaldo lalu bergabung dengan tim junior klub itu pada tahun 1992, di usia 7 tahun. Kemampuannya sudah terbukti sejak awal. Pada usia 10 tahun, Ronaldo pindah ke CD Nacional yang lebih besar dibanding klub lamanya.

Meski begitu, hidupnya belum menjadi mudah, dan keluarganya masih kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ronaldo pernah bercerita bahwa mereka pernah tidak punya apa pun untuk dimakan, dan terpaksa harus mengemis makanan pada staf restoran cepat saji, McDonald. Ada dua orang baik hati yang selalu bermurah hati padanya, dan pemain 36 tahun itu tidak pernah melupakan kebaikan tersebut.

Saat wawancara dengan Piers Morgan, legenda hidup Portugal itu mengumumkan bahwa dirinya masih terus mencari kedua orang baik tersebut, untuk memberikan ucapan terima kasih yang pantas dan membalas kebaikan mereka pada saat dirinya masih berkekurangan.

Hal ini menunjukkan kerendahan hati dan kebaikan dari pemain yang sering dituduh arogan dan suka berfoya-foya oleh banyak orang itu. “Aku sudah bertanya pada orang-orang di Portugal, dan katanya McDonald itu sudah tutup. Namun, jika wawancara ini dapat membantu untuk menemukan mereka, aku akan sangat senang,” kata pemain berjuluk CR7 itu.

“Aku ingin mengundang mereka ke Turin atau Lisbon untuk makan malam denganku, karena aku ingin memberikan sesuatu sebagai balasan.” Piers Morgan belakangan menge-twit bahwa mereka “mungkin telah menemukan Edna,” staf McDonald yang sering memberi Ronaldo makanan itu.

Kala Sporting Lisbon menyatakan ketertarikan mereka untuk meminang dirinya, Ronaldo sebenarnya tidak begitu senang saat harus meninggalkan keluarganya. Namun ibunya terus mendorongnya untuk mengejar mimpinya, karena tahu bahwa anak bungsunya mampu membalikkan kondisi ekonomi keluarga.

Di Portugal, Ronaldo sangat merindukan rumahnya, dan keadaan tidak menjadi lebih baik karena perundungan terus-menerus yang dialaminya di sekolah. Anak-anak lain sering menertawakan penampilan hingga aksen Madeira-nya yang aneh di telinga orang-orang kepulauan utama Portugal. Untungnya, seorang pelatih tim muda di Sporting, terus membantu sebisa mungkin agar Ronaldo tidak merasa kesepian dan makin nyaman.

Selain itu, ada fakta kecil yang jarang diketahui dari Ronaldo. Meski saat ini kondisi fisiknya sempurna, Ronaldo kecil sebenarnya menderita kelainan jantung yang membutuhkan perawatan serius. Menurut ibunya, jantung Ronaldo berdetak lebih kencang dari biasanya, saat sedang tidak berlari.

Tim medis Sporting memeriksa kelainan tersebut dan memutuskan untuk melakukan operasi jantung. Dokter kemudian melakukan kauterisasi dengan laser pada titik yang bermasalah, dan untungnya perawatan tersebut berjalan lancar dan bahkan membantu meningkatkan kecepatannya. Buktinya dapat terlihat saat dirinya tampil gemilang kala masih bermain sebagai pemain sayap Manchester United.

Akhirnya, Ronaldo dipindahkan ke tim senior Sporting, dan sisanya adalah sejarah. Meski begitu, yang menentukan karier Ronaldo dalam jangka panjang bukanlah kemampuan mengolah bolanya saja, tetapi tekad untuk membalikkan keadaan dan memanfaatkan hal-hal negatif di sekitar sebagai motivasi untuk berhasil dan tampil bagus di bidangnya. Dan dia sungguh berhasil melakukannya.

Diterjemahkan dari akun Youtube Goalside!

(DS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*