[Review Film Netflix ] Misha and The Wolves: Terlalu Indah untuk Jadi Kenyataan

Bertahun-tahun selepas kekejaman holokaus ditelanjangi, kisah para penyintasnya menjadi bak lubang di dinding sejarah, bagi yang ingin mengintip sisi banal manusia saat dipaksa menyintas. Salah satu kisah paling menakjubkan adalah kisah Misha Defonseca, yang baru terkuak di tahun 1997. “Saking menakjubkannya hingga sulit untuk dipercaya,” kata penyiar radio di awal film berdurasi 90 menit ini.

Kisahnya memang luar biasa. Di masa pendudukan Nazi di Belgia, negara kelahirannya, Misha kehilangan ayah dan ibunya yang notabene berdarah Yahudi. Keduanya diculik oleh Nazi dan dibawa ke kamp konsentrasi saat Misha masih kecil. Keinginan kuat untuk bertemu ayah dan ibunya serta perlakuan kakek dan neneknya yang kurang menyenangkan, membuatnya nekat berjalan menembus perbatasan Belgia-Jerman, demi mencari keduanya. Namun, Misha tidak sendirian. Dalam perjalanannya, dia bertemu sekawanan serigala, yang kemudian menemani pengembaraannya hingga akhir Perang Dunia II.

Bertahun-tahun berselang, di sebuah sinagoga di Millis, Massachussetts, AS, Misha pun menelanjangi kisah penyintasannya dari holokaus, untuk pertama kali. Takjub dan tertarik akan potensi ekonomis kisah tersebut, Jane Daniel, seorang penerbit lokal, menawarkan diri untuk menerbitkan ceritanya. Misha setuju dan menulis memoar berjudul Misha: A Memoire of the Holocaust Years. Buku yang dirilis tahun 1997 itu, segera menjadi buku terlaris dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.  Ketenaran buku itu bahkan sampai membuat Oprah Winfrey mengundang Misha untuk tampil di acaranya, pada segmen Oprah’s Book Club.

Namun, karena merasa dicurangi, Misha lalu menuntut Jane Daniel. Setelah beperkara di pengadilan, Misha dinyatakan menang dan Daniel diharuskan membayar ganti rugi royalti sebesar 22,5 juta dolar. Merasa berada di ambang kehancuran, Daniel pun melakukan riset ulang terhadap seluruh kasus tersebut. Kejanggalan kecil yang didapatnya dari perkara tersebut, kemudian dituliskannya dalam sebuah blog. Mendadak, seorang ahli genealogi menghubunginya dan menawarkan bantuan untuk melacak keseluruhan latar belakang Misha. Kebetulan kecil itu pun menuntun pada tersingkapnya fakta-fakta lain yang lebih mencengangkan dari Misha.

Menguak Teka Teki Misha dan Holokaus

Sam Hobkinson, sutradaranya, berhasil merajut kisah dokumenter ini dengan sangat menarik. Kesaksian dan sudut pandang berbagai pihak ditampilkan secara bertahap, didahului perkenalan profesi ala Wes Anderson, dengan nama dan latar berbunga-bunga, mulai dari Penyiar Radio, Tetangga, Pengacara, Penerbit, Ahli Genealogi, hingga Sejarawan Militer.

Kita pun mampu mengikuti alur “penyelidikan” yang dibangun Hobkinson dengan kian menarik dan tidak ingin terburu-buru. Sementara para saksi berkisah, Hobkinson memasukkan berbagai rangsangan visual mulai dari rekaman asli di masa holokaus, reka ulang adegan perjalanan Misha di hutan, montase foto dan video wawancara Misha, hingga sketsa apik yang perlahan-lahan menerangi pikiran penonton akan alur dan gambaran besar yang ingin ditampilkannya.

Bagi yang telah mengetahui kisah utuhnya, segmen awal film ini bisa terasa membosankan karena kisahnya dibangun dengan sangat lambat. Penuturan para tetangga yang membentuk gambaran kehidupan di kota kecil dan karakter Misha, terkesan terlalu biasa untuk seseorang yang mengalami sesuatu yang luar biasa. Meski begitu, bagi yang bersabar, sebenarnya kisah ini akan berubah menjadi kisah detektif yang menarik.

Memasuki inti film, penonton dibawa dalam alur penyelidikan masa lalu di Belgia. Penuturan Evelyne Haendel, menuntun kita dalam penelusuran ulang teka-teki para anak Yahudi yang disembunyikan, yang melibatkan empat buku berbeda. Haendel sendiri tampak memikul tanggung jawab ini dengan sedikit lebih serius, karena selain orang tuanya merupakan korban holokaus, dia pun salah satu anak Yahudi yang disembunyikan. “Misi” yang seolah menjadi salam terakhirnya sebagai korban tragedi tersebut, membawanya dalam penyelidikan ke museum sejarah perang Belgia, sekolah, hingga gereja tempat Misha dibaptis.

Moral film ini mungkin patut dititikberatkan pada relevansinya dengan kondisi hidup kita di era informasi ini. Kita sering berpikir bahwa di era informasi ini, semua berita palsu atau berita bohong dapat dengan mudah dihalau. Namun, berulang kali kita masih saja terjebak untuk percaya pada berita-berita semacam itu. Alasannya, seperti yang diangkat dan dibuktikan dalam film ini: kita percaya yang ingin kita percayai. Kita cenderung percaya pada sesuatu yang menggerakkan emosi kita. Di situlah kita sering mengabaikan fakta-fakta dan akhirnya tertipu.

Film ini menantang kemampuan dan proses berpikir kita sebelum memercayai sesuatu. Tepat sebelum jari menggulir layar ponsel pintar dan otak memproses yang hadir di depan mata, kita ditantang untuk kritis dan berpikir terbuka. Dalam prosesnya, tentu akan ada rasa kecewa, tidak puas, atau marah, tetapi mungkin dengan begitulah kita dimerdekakan.

Terkadang, fakta memang tidak peduli dengan perasaan kita. “Memercayai sesuatu, itu manusiawi. Namun, kredibilitas itu beda lagi. Kebutuhanmu untuk mempertanyakan sesuatulah, yang akan membantumu membedakan yang benar dan yang tidak benar,” kata Haendel di ujung penuturannya.

(DS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*