Spike Lee, sutradara kulit hitam yang sering menyebut karyanya “joint” (lintingan), kali ini menghadirkan film berjudul Da 5 Bloods. Film ini meneropong sisi perang Vietnam dari pengalaman prajurit kulit hitam.
Pergulatan identitas sebagai kaum minoritas yang dinomorduakan, bersamaan dengan mimpi buruk perang Vietnam, ditampilkan dengan gaya khas Spike Lee yang tak terduga, sarkastik, dan sarat pesan tersembunyi. Di satu sisi ada eksotisme oriental yang hangat dan mendayu-dayu, di sisi lain ada kenangan akan pengorbanan, kekalahan yang ingin ditepis jauh-jauh dari benak, serta dilema moral antara posisi Amerika di kancah dunia dan pergolakan hak-hak sipil di negeri sendiri.
Dikisahkan bahwa perang Vietnam telah menyatukan lima pria kulit hitam dari satuan Big Red One (Divisi Pertama Angkatan Darat AS). Mereka adalah Melvin (Isaiah Whitlock Jr.), Eddie (Norm Lewis), Otis (Clarke Peters), Paul (Delroy Lindo), dan kepala skuad mereka, Stormin’ Norman (Chadwick Boseman). Mereka menjuluki diri sebagai “Bloods” atau kasarnya, “saudara seperjuangan”.
Stormin’ Norman merupakan pemimpin skuad sekaligus sosok yang mereka kagumi karena kepemimpinan, visi yang mendalam, dan keberaniannya. Norman mengajarkan mereka untuk tidak menggunakan kekerasan, mengajak mereka untuk berjuang sendiri, dan fokus pada tujuan. Bisa dibilang, Norman adalah urat nadi persaudaraan mereka. Namun, dia tewas saat di Vietnam.
Kembali ke Saigon
Seusai perang, bertahun-tahun kemudian, keempat sahabat itu yang kini berusia 60-an, berencana kembali ke Saigon untuk membawa pulang jenazah Norman yang belum sempat dievakuasi. Bermodalkan izin dari pemerintah AS dan Vietnam, mereka pun terbang ke Saigon. Namun di balik tujuan mulia ini, sebenarnya ada satu lagi tujuan “kurang mulia” yakni mengambil kembali emas batangan milik pemerintah AS untuk militan Lahu yang mereka temukan setelah pesawat pengangkut emas tersebut ditembak jatuh milisi Vietkong.
Pemerintah mengira emas itu telah dicuri Vietkong. Keempatnya berharap menemukan kembali emas yang mereka timbun di dekat jenazah Norman, dan menyelundupkannya ke AS untuk kepentingan mereka.
Demi menyelundupkan emas itu nanti, Otis menghubungi bekas kekasihnya di Vietnam, Tien (Le Y Lan) yang ternyata telah melahirkan putrinya. Tien lalu menghubungkan empat sekawan itu dengan Desroche (Jean Reno), seorang pengusaha asal Prancis yang meminta bayaran mahal atas jasanya. Menjelang keberangkatan kelompok itu ke hutan, David (Jonathan Majors), putra semata wayang Paul, mendadak datang dan meminta diikutsertakan dalam petualangan. David lalu bertemu Hedy Bouvier (Melanie Thierry), gadis Prancis yang bersama timnya Simon (Paul Walter Hausser), dan Seppo (Jasper Paakonen) bekerja sukarela membersihkan ranjau di Vietnam.
Sentuhan Spike yang Berbeda
Dua menit awal film ini menyuguhkan prolog berupa montase video wawancara tokoh seperti Muhamad Ali dan rekaman asli perang Vietnam yang sangat grafik, yang jika mau jujur, terasa seperti pemberian alasan untuk membenarkan motif film ini. Alur film bergerak maju mundur antara masa kini dan kenangan kelompok itu akan Norman semasa perang. Perbedaan kilas balik dan kejadian aktual bisa terlihat jelas dari perubahan lebar layar dan gambar.
Penulis awal film ini adalah Danny Bilson dan Paul De Meo dengan judul The Last Tour. Belakangan naskahnya diambil alih dan diubah oleh Spike Lee dan rekan lamanya Kevin Wilmott. Pengambilan gambarnya sendiri tidak banyak menampilkan teknik “Spikeism,” seperti yang sering ditampilkan pada karya-karya Spike Lee. Tidak ada teknik “faces in the crowd” ala Blackkklansman (2018), “floating down the street” atau double dolly shot ala Malcolm X (1992), maupun “squeezing the frame” ala Crooklyn (1994). Di beberapa adegan kilas balik, ratio gambar diperkecil, dan dalam beberapa adegan terlihat penyesuaian warna (mungkin juga kamera) untuk mendapatkan suasana tertentu. Selain itu, ada pula iringan soundtrack reflektif, militeristik yang menawan karya Terence Blanchard dan Marvin Gaye.
Kisahnya dibangun perlahan untuk menyingkap pengalaman ironis yang menempa masa muda para tokoh: perang Vietnam dan tentara kulit hitam AS yang di negeri sendiri tidak diakui sebagai warga negara. Kesadaran ini diwakilkan dalam adegan kilas balik yang tenang sekaligus mengancam lewat propaganda radio seorang penyiar wanita bernama Hanoi Hannah (Van Veronica Ngo) yang mengabarkan kematian Martin Luther King Jr. dan mengusik mereka dengan pertanyaan tentang mengapa harus membela negara yang memperlakukan mereka sebagai masyarakat kelas dua? Dengan kata lain, apakah ukuran patriotisme sejati? Pengorbanan ataukah fanatisme?
Pencarian emas dan kuburan Norman selanjutnya terkesan terlalu singkat dan dangkal, namun sekaligus mengindikasikan fokus Lee pada penokohan yang lebih dalam. Paul yang punya masalah sindrom pascaperang dan fanatisme berlebihan pada Norman. Otis yang harus minum OxyContin untuk nyeri pinggangnya, juga menyembunyikan pistol pemberian Tien. Eddie yang ternyata sudah bangkrut dari bisnisnya. Melvin yang tampaknya terlalu baik untuk ada di kelompok ini. David yang berusaha menjalin ikatan emosional dengan Paul.
Emas, Pistol dan Topi MAGA
Terdapat tiga simbol yang terlihat sepanjang film ini, yakni emas, pistol yang disembunyikan Otis, dan topi MAGA (Make America Great Again) merah yang sejak awal dikenakan Paul, pendukung Donald Trump.
Emas menurut saya melambangkan kebebasan. Kebebasan yang masih terkubur dan harus dicari dan direbut kembali. Pistol yang diberikan secara diam-diam, melambangkan jalan terakhir untuk melindungi diri (baca: kekerasan), seandainya keadaan tidak berjalan sesuai rencana. Topi MAGA melambangkan kekuasaan yang harus dilawan, dalam hal ini Presiden Donald Trump, seorang “anggota KKK di Gedung Putih,” kata David, yang ditanggapi Paul, ayahnya, sebagai seorang “pengkhianat”. Paul (Delroy Lindo) yang blak-blakan itu, digambarkan berwatak keras, fanatik, dan egois. Namun karena dia juga cerita ini mendapatkan kedalaman yang diinginkan dan Lindo patut diacungi jempol untuk aktingnya yang meyakinkan di sini.
Setelah ketiga simbol ini bertemu, film lalu bergerak ke akhir yang dramatis. Berbeda dari film-film perang pada umumnya yang menghadirkan akhir hitam-putih, di sini penonton dihadapkan pada keharusan moral untuk bersikap. Namun Lee bukannya tidak mempersiapkan kita untuk ini. Lewat film ini, seperti dikatakan dalam ulasan New York Times, Lee ingin menunjukkan bahwa “kelebihannya sebagai pembuat film politis, selalu terletak pada kemampuannya dalam menghadirkan kontradiksi pada kehidupan yang kacau, alih-alih menunjukkan jalan keluarnya dalam proposisi ideologi tertentu.”
Memang, terkadang menunjukkan jalan keluar ideal bukanlah cara yang bijak dalam menyelesaikan pergolakan dan meredam penderitaan. Sebaliknya, menghadapkan ideal-ideal kita pada titik terburuk dari suatu kekacauan, mungkin bisa menghadirkan katarsis. Ini juga, mungkin, yang menggerakkan Paul untuk meneriakkan Mazmur 23 dari Alkitab sebelum menghilang ke tengah hutan.
Akhirnya, hal positif dari film ini adalah rekonsiliasi, keteguhan hati, keberanian, dan “Tuhan itu kasih,” kata Norman. Di sisi lain, ada bahasa kasar, sindiran politik yang tajam, pesan pemberontakan, dan sedikit kekecewaan bagi mereka yang mengharapkan film ini sebagai film perang konvensional penuh laga dan heroisme ala Rambo.
Namun, film ini sudah cukup memuaskan, karena perang tak selamanya berhubungan dengan tembak-tembakan. Film ini cukup mampu melukiskan nilai universal tentang kemerdekaan. Bahwa kemerdekaan bukanlah tujuan akhir. Selama rasa sakit dan kepentingan pribadi menjadi penggerak dalam kebebasan, maka “di sini perang tidak pernah berakhir,” seperti kata Vinh (Johnny Nguyen), pemandu mereka.
(DS)
Leave a Reply