[Review 16 Besar UCL] PSG 1-1 Barcelona : Penalti Gagal Messi, Haruskah Diulang?

Barcelona tersingkir dari perhelatan Liga Champions setelah dini hari tadi dipaksa bermain imbang 1-1 di kandang Paris St. Germain.

PSG unggul lebih dahulu lewat sepakan penalti Kylian Mbappe di menit ke-30. Wasit Anthony Taylor menunjuk titik putih setelah mengonfirmasi lewat VAR bahwa bek Barcelona, Clement Lenglet, melakukan pelanggaran terhadap Mauro Icardi.

Tertinggal kian jauh akibat kalah 4-1 di leg pertama, Barcelona yang tampil mendominasi berusaha bangkit. Harapan sempat timbul di kubu Barca setelah Lionel Messi mencetak gol spektakuler dari luar kotak penalti selang tujuh menit dari gol Mbappe.

Barca sebenarnya berpeluang besar untuk memperkecil agregat menjadi 5-3, dan turun minum dengan keunggulan 2-1. Di masa tambahan waktu jelang akhir babak pertama, pasukan Ronald Koeman itu mendapat hadiah penalti akibat pelanggaran Layvin Kurzawa atas Antoine Griezmann. Sayang sekali, Messi gagal memanfaatkan peluang emas tersebut. Tendangannya berhasil diblok Keylor Navas, sebelum memantul ke mistar gawang. Bola liar tersebut kemudian dihalau Marco Veratti dan berbuah tendangan pojok bagi Barca.

Tapi, di sinilah kontroversi terjadi. Dalam tayangan ulang, Veratti berada di dalam garis setengah lingkaran atau yang dikenal sebagai busur penalti (penalty arc). Menurut aturan International Football Association Board (IFAB), saat penalti akan dilakukan, selain penendang dan kiper, pemain lainnya harus berada di luar kotak penalti, termasuk busur penalti. Apabila ada pemain yang melanggarnya, maka penalti harus diulang.

Sumber gambar: as.com

Tindakan Veratti tersebut, dalam sepakbola diistilahkan dengan “encroachment” atau gerakan yang mengganggu. Di dalam aturan penalti IFAB, encroachment termasuk pelanggaran, dan jika pelakunya adalah pemain dari tim yang terkena hukuman penalti, maka penalti harus diulang. Apalagi dalam kasus ini, Veratti juga merupakan pemain pertama yang menyentuh bola setelah membentur mistar gawang. Artinya, terlibat aktif dalam mengubah hasil akhir dari penalti tersebut.

Wasit memang sempat mengecek VAR, namun cuma memastikan kaki Keylor Navas berada di garis gawang sesuai aturan. Kaki Veratti yang lewat hampir 1,5 meter, luput dari perhatian wasit maupun VAR.

Akibat insiden ini, banyak yang menyuarakan kekecewaan lewat media sosial terhadap keputusan VAR. Terry Gibson, mantan pemain timnas Inggris yang kini sesekali menjadi komentator di Sky Sports misalnya, melalui akun Twitter pribadi, mengeluhkan keputusan VAR yang tidak maksimal.

Gibson menulis, “(Saya) Baru saja memutar ulang rekaman penalti Messi yang gagal untuk melihat apa yang mereka (wasit & VAR) cek, dan Veratti, yang pertama menyentuh bola setelah membentur mistar gawang, ternyata berdiri jauh di dalam area setengah lingkaran saat Messi mulai menendang! Kalau VAR tugasnya mengecek semua, bagaimana mungkin mereka tidak melihat itu.”

Mantan pemain Timnas Inggris lainnya, Joe Cole, yang kini menjadi komentator untuk salah satu stasiun TV, berkomentar, “Bisa-bisanya mereka tidak melihat itu sebagai pelanggaran. Coba putar ulang rekamannya, dan lihat sendiri bahwa dia ikut memengaruhi permainan!”

Apakah Barcelona akan lolos seandainya Messi diberi kesempatan kedua untuk menendang penalti tersebut, tentu tidak bisa dipastikan. Blaugrana masih harus mencetak tiga gol lagi di babak kedua, untuk bisa lolos. Misi yang nyaris mustahil. Namun, setidaknya itu bisa memberikan sedikit rasa keadilan bagi kita, para pencinta sepak bola, yang belum siap mendapat tamparan kenyataan bahwa Messi juga bisa gagal. Terlebih setelah gol indahnya itu.

(DS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*