Dalam hitungan jam, Liga Serie A Italia musim kompetisi 2020/2021 akan kembali bergulir. Pekan pertema kompetisi sepak bola kasta tertinggi di Italia ini memang belum menghadirkan big match antara tim-tim besar. Jika mengacu pada klasemen musim lalu, maka duel yang cukup seru baru akan terjadi dini hari nanti (20/9/2020), kala Hellas Verona menjamu AS Roma dan besok malam saat Parma ditantang sang tamu Napoli. Juventus sang juara bertahan baru akan bertanding melawan Sampdoria, Senin (21/9/2020) nanti.
Tanpa adanya banyak pertandingan pramusim, juga ditiadakannya turnamen International Champions Cup (ICC) akibat pandemi Covid-19, peta kekuatan Serie A memang belum terbaca dengan jelas. Apakah Juventus akan meraih scudetto ke-10 nya secara beruntun di akhir musim nanti? Atau muncul juara baru yang memutus dominasi tim Zebra?
Juve Masih Favorit
Sembilan tahun sudah singgasana Serie A dalam genggaman sang raksasa dari Turin, Juventus. Konsistensi berbuah dominasi La Fidanzata d’Italia (Sang Kekasih Italia) di ranah domestik lantas mulai terasa membosankan. Mungkin bukan hanya bagi penikmat Liga Italia, tetapi juga bagi Juventini, para pendukung setia Juventus. Secara raihan scudetto, pesaing terdekatnya, duo Milan (Inter Milan dan AC Milan) masih berselisih 18 gelar dengan perolehan Juventus.
Sebagai jawara bertahan, Juventus tentu saja masih diunggulkan untuk mengangkat trofi juara di akhir musim. Apalagi materi pemain Juventus musim ini tidak banyak mengalami perubahan. Pjanic ditukar dengan Arthur, Matuidi yang hengkang diganti darah muda dalam sosok Kulusevski dan McKennie. Juga rasanya tinggal sedikit lagi Dzeko akan disahkan sebagai pengganti Higuain, menemani Ronaldo dan Dybala di lini depan.
Maka, sah-sah saja rasanya jika Juventus optimis bisa kembali menjadi juara. Namun, yang jadi pertanyaan kini adalah bagaimana sang allenatore baru La Vecchia Signora, Andrea Pirlo, meramu skuad demi bisa berpesta di akhir musim. Penunjukkan coach Pirlo sendiri cukup mengagetkan banyak pihak. Terlepas dari semua gelar yang ia raih saat masih menjadi pemain, di klub maupun di level tim nasional, Pirlo belum memiliki pengalaman sebagai pelatih. Cuma seminggu menjadi pelatih Juventus U-23, Pirlo lalu diserahkan tanggung jawab melatih tim utama.
Pirlo dalam beberapa pertemuan dengan media mengatakan bahwa Juventus yang ia inginkan adalah seperti pada masa Antonio Conte. Artinya kemungkinan besar Juventus akan kembali ke formasi 3-5-2. Lini tengah Juventus akan mendapat perhatian ekstra dan ditempa secara langsung oleh sang maestro.
Lalu, apakah faktor Pirlo yang masih “hijau” akan membuat Juventus melemah? Hati-hati. Ingatlah musim lalu, Maurizio Sarri yang datang dan coba menerapkan gaya Sarri-ball miliknya, tetapi dinilai tidak cocok bagi Juventus, pun masih bisa berbuah gelar scudetto.
Berebut Peran Antagonis
Ibarat lakon cerita, perjalanan musim Serie A yang baru nanti pun punya sang protagonisnya, yakni Juventus sang favorit. Namun, yang justru dicari kini adalah siapa yang akan menjadi penantang utama, si antagonis, yang bukan cuma sekedar jadi pengganggu, tetapi kelak di akhir cerita bisa merebut mahkota juara dari Juventus. AC Milan, Napoli, AS Roma, hingga Inter Milan di musim-musim sebelumnya, pernah silih berganti mencoba. Sayang, alih-alih jadi antagonis, semuanya malah terlihat seperti figuran. Mereka belum bisa memutus dominasi Juventus sebagai penguasa Italia.
Namun, dalam cerita kali ini Juventus patut waspada, terutama terhadap Inter Milan. Kebangkitan Nerazzurri yang tampak dalam dua musim ke belakang, menempatkan mereka di posisi teratas untuk menghentikan laju Juventus. Musim lalu, meski hanya menempati posisi runner-up di klasemen akhir, Il Biscione hanya terpaut satu poin dari Juventus.
Inter Milan tampak semakin serius kali ini. Achraf Hakimi yang gemilang bersama Borussia Dortmund, diboyong ke Giuseppe Meazza guna memperkuat lini belakang. Demikian halnya dengan Aleksandar Kolarov, yang didatangkan dari AS Roma karena kematangan dan pengalamannya. Kembalinya Ivan Perisic dan Radja Nainggolan bisa menjadi tambahan tenaga yang berharga bagi lini tengah yang ditempati Nicolo Barella dan Stefano Sensi. Ini bisa saja bertambah kuat, jika Arturo Vidal, incaran Conte, benar-benar didatangkan dari Barcelona. Sektor serangan sudah pasti menjadi milik duet maut Lautaro Martinez dan Romelu Lukaku yang kian padu.
Inkonsistensi adalah masalah utama pasukan Antonio Conte musim kemarin. Performa tidak stabil La Beneamata menyebabkan mereka harus kehilangan poin di laga-laga krusial. Andai bisa dibenahi, niscaya puasa gelar Inter Milan akan segera berakhir. Pun, bisa jadi Derby d’Italia Inter versus Juventus akan menjadi penentu juara Liga Italia.
Setelah Inter Milan, kejutan musim ini bisa kembali datang dari Atalanta yang tampil secara luar biasa pada musim kemarin. Bukan cuma di Italia, tetapi juga di kompetisi Eropa, Liga Champions. Posisi ke-3 musim lalu adalah raihan terbaik La Dea (Sang Dewi) sepanjang keikutsertaan mereka di Serie A. Tentunya performa apik itu diharapkan bisa mereka ulang kembali kali ini.
Komposisi pemain klub berjuluk Gli Oribici ini memang tidaklah mewah. Skuad yang “biasa-biasa saja” saja itu justru membentuk Atalanta menjadi tim yang solid, karena tidak bergantung pada salah satu nama besar. Ditambah lagi gaya permainan menyerang yang diterapkan sang pelatih, Gianpiero Gasperini, Papu Gomez dan kawan-kawan pun tampil trengginas.
Musim ini, dengan skuad yang tidak jauh berubah, tampaknya posisi empat besar akhir masih jadi target yang realistis bagi klub asal Bergamo ini. Hengkangnya bek Timothy Castagne ke Leicester City, sepertinya tidak akan berdampak besar, karena langsung digantikan Cristian Romero yang dipinjam dari Juventus. Lini tengah pun makin tangguh dan punya tambahan opsi dengan datangnya Aleksei Miranchuk dari Lokomotiv Moskow. Di depan, Duvan Zapata, Josip Ilicic hingga Luis Muriel diharapkan tetap bisa membuat seisi Gewiss Stadium bersorak lewat gelontoran golnya. Ingat, musim lalu Atalanta menjadi tim tersubur Serie A dengan lesakkan 98 gol.
Bergeser ke ibu kota, Lazio, peringkat empat musim lalu juga patut diperhitungkan dalam perburuan juara kali ini. Bersama Inter Milan, keduanya sempat menjadi ancaman serius bagi Juventus di paruh pertama kompetisi. Juventus bahkan pernah dua kali harus menanggung malu saat berjumpa Lazio di Serie A dan Supercoppa Italia. Menilik performa dan komposisi skuad, Elang Ibu Kota bisa terbang lebih tinggi lagi musim ini.
Musim lalu, penampilan Lazio sangat terbantu dengan ketajaman sang striker, Ciro Immobile, yang juga jadi top skor dengan 36 golnya. Hanya saja, ketajaman tersebut juga seakan membuat Biancocelesti sangat bergantung pada sang penyerang. Beruntung Lazio cepat menyadarinya, dan telah mendatangkan Vedat Muriqi dari Fenerbahce. Muriqi yang yang cukup moncer di Super Lig Turki diharapkan bisa mengurangi ketergantungan pasukan Simone Inzaghi pada Immobile.
Di luar empat besar musim lalu, pencinta Serie A tidak boleh melupakan nama besar AC Milan, AS Roma dan Napoli. Il Diavolo Rosso terlihat punya tekad kuat untuk tampil lebih baik sejak awal musim baru. Maklum, paruh pertama musim kemarin performa Milan babak belur. Belum lagi sederet konflik internal di jajaran manajemen yang merusak harmonisasi klub. Beruntung di paruh kedua, penampilan mereka membaik, terutama berkat tangan dingin Stefano Pioli, sang pelatih. Kedatangan playmaker masa depan Italia, Sandro Tonali, yang gaya bermainnya sering disamakan dengan Andrea Pirlo, serta Brahim Diaz yang dipinjam dari Real Madrid, membuat Milan bisa menatap musim baru dengan lebih percaya diri.
Sementara itu, Serigala Roma menyambut musim baru dalam aura ketidakpastian. Edin Dzeko, kapten sekaligus striker mereka, gencar diberitakan segera pindah ke Juventus. Kabar yang beredar, kepergian Dzeko akan ditutupi dengan hadirnya Arkadiusz Milik dari Napoli. Namun, belum ada kepastian tentang ini. Beruntung mereka sudah lebih dahulu mengamankan servis eks Chelsea, Pedro Rodriguez. Kembalinya Chris Smalling ke Manchester serta Alessandro Florenzi dipinjam PSG langsung diganti dengan mendatangkan Marash Kumbulla dari Hellas Verona secara pinjaman. Selebihnya, skuad Giallorossi masih tetap sama.
Wakil dari Selatan, Napoli juga belum banyak berbenah. I Partenopei memang telah punya striker baru, Victor Osimhen yang ditransfer dari Lille. Lesakkan 13 gol dari 27 penampilan dalam musim pertamanya kemarin di Perancis, cukup meyakinkan Gattuso untuk melepas Milik ke Roma nantinya. Hanya saja Gattuso patut waspada, sebab bek tangguh, Kalidou Koulibaly, sedang diincar klub-klub besar Eropa. Kehilangan Koulibaly akan sangat berpengaruh terhadap sektor bertahan Napoli.
Papan Tengah dan Gairah Pendatang Baru
Posisi tengah klasemen musim lalu cukup mengejutkan sebab banyak berubah. Nama-nama yang biasa menjadi langganan seperti Sampdoria dan Torino malah terlempar papan bawah klasemen. Beruntung keduanya tidak sampai harus turun kasta ke Serie B. Hanya Sassuolo, Fiorentina, Parma dan Udinese yang terbilang konsisten musim lalu. Dengan tidak adanya perubahan yang berarti dalam komposisi pemain, menarik untuk melihat bagaimana pertarungan kelimanya di musim ini.
Sementara untuk tiga pendatang baru, Benevento, Crotone dan Spezia, mungkin cuma nama pertama saja yang nampak lebih bisa bersaing. Gli Stregoni (julukan Benevento), punya pelatih dengan cukup banyak pengalaman, Filippo Inzaghi. Skuad juara Serie B musim lalu ini juga ditopang beberapa nama yang sudah berpengalaman di Serie A sebelumnya. Ada Christian Maggio yang pernah lama di Napoli dan Kamil Glik eks kapten Torino. Gianluca Lapadula, Gianluca Caprari, dan Artur Ionita juga sudah malang-melintang di Serie A. Cerita menarik Benevento yang patut dinanti adalah kala bersua Lazio musim ini, di mana Filippo Inzaghi akan melawan sang adik Simone.
Spezia dan Crotone? Tanpa bermaksud mengecilkan kehadiran dua klub ini, rasanya target paling realistis mereka adalah menghindari zona degradasi. Namun, dengan pasar jual-beli pemain yang masih berjalan, peluang memperkuat masing-masing skuad pun masih terbuka lebar. Jadi, perjalanan mereka di Serie A nanti juga patut ditunggu.
(FA)
Leave a Reply