Didakwa Korupsi, Barcelona Dihadapkan Banyak Ancaman Sanksi

Kabar terbaru dan terpanas kembali mewarnai dunia sepakbola dan tepatnya persepakbolaan di Negeri Matador Spanyol. Salah satu kontestan La Liga, Barcelona, harus dihadapkan dengn tuduhan korupsi atas suap terhadap mantan wakil presiden komite wasit Spanyol, Jose Maria Enriquez Negreira.

Dilansir dari BBC, kasus ini mencuat ke permukaan setelah jaksa penuntut Spanyol melakukan penyelidikan terhadap setiap pembayaran yang dilakukan pihak Barcelona kepada DASNIL 95, perusahaan milik Enriquez Negreira, selama 17 tahun yaitu dari 2001 hingga 2018 dengan uang total 8,4 juta euro atau sekitar Rp122 miliar.

Sementara, Barcelona membayar Negreira secara pribadi sekitar 7 juta euro antara 2001 sampai 2018. Tudingan terkait korupsi dan suap yang dilakukan Barcelona meningkat setelah 18 dari 20 klub Liga Spanyol mengeluarkan pernyataan tentang kekhawatiran mendalam atas situasi tersebut.

Jose Maria Enriquez sendiri merupakan mantan petinggi di dunia perwasitan Spanyol dan pernah menjabat sebagai wakil presiden komite wasit Spanyol periode 1994 hingga 2018.

Pengadilan Barcelona mendengar laporan ini pada Jumat (10/03/2023) mengatakan bahwa Barcelona, mantan pejabat klub dan Negreira telah didakwa atas korupsi, pelanggaran kepercayaan, dan juga catatan bisnis palsu.

Selain Negreira, kasus ini juga menyeret beberapa mantan presiden Barcelona, yaitu Josep Maria Bartomeu (2014-2020) dan Sandro Rossel (2010-2014). 

“FC Barcelona memperoleh dan mempertahankan perjanjian lisan yang sangat rahasia dengan Jose Maria Enriquez Negreira, sehingga dalam kapasitasnya sebagai wakil presiden komite arbitrase teknis (CTA) dan dengan imbalan uang, yang terakhir melakukan tindakan yang cenderung menguntungkan klub (FC Barcelona) dalam keputusan wasit,” kata kantor kejaksaan Barcelona.

Pihak Negreira bersikukuh mengatakan kalau Barcelona tidak pernah mendapatkan perlakuan khusus dari komite wasit Spanyol dan pembayaran yang tidak ada kwitansinya merupakan imbalan untuk pekerjaan sebagai penasehat.

Ia mengaku hal ini termasuk menjelaskan kepada para pemain bagaimana mereka harus bersikap di hadapan pengadil di lapangan. Nasehat lain yang diberikan adalah rekomendasi apa yang bisa atau tak bisa para pemain lakukan tergantung siapa yang jadi wasit laga.

Hal yang memberatkan adalah Negreira tidak bisa memberikan dokumen apapun yang menyatakan bahwa pihaknya menyediakan jasa kepada Barcelona.

Javier Tebas selaku kepala eksekutif La Liga mengatakan bulan lalu, bahwa presiden Barcelona saat ini, Joan Laporta, harus mengundurkan diri jika dia tidak dapat menjelaskan terkait pembayaran tersebut.

Laporta merespon hal itu dengan mengatakan bahwa dia tidak akan menuruti permintan Tebas, tetapi tuduhan itu datang tiga hari setelah Laporta menegaskan kalau klubnya tidak pernah membeli wasit.

“Perlu ditegaskan bahwa Barca tidak pernah membeli wasit dan Barca tidak pernah berniat memberi wasit, sama sekali tidak pernah,” ujar Laporta dikutip dari BBC.

Sang presiden sendiri telah mengutarakan pihaknya akan meluncurkan investigasi internal terkait kasusu tersebut.

Lanjut dari kasus tersebut, jaksa penuntut telah mendakwa semua pihak terlibat dengan administrasi palsu dan juga memalsukan dokumen komersial.

Menanti Hukuman dari UEFA

Investigasi Skandar Negreira menvuat sejak Februari lalu dan bisa menyeret Barcelona ke hadapan berbagai sanksi. Hukum di Spanyol dapat memasukkan kasus ini dalam kategori tindak criminal dengan percabangannya sebagai korupsi olahraga, yang ditujukan untuk menentukan atau mengubah hasil pertandingan dengan cara ilegal.

Terkait kasus yang sedang menimpa Barcelona, La Liga sendiri tidak bisa menghukum mereka (Barcelona) di liga karena kasus ini sudah berlangsung lebih dari tiga tahun lalu.

“Sudah lebih dari lima tahun sejak pembayaran tersebut dihentikan dan pelanggaran seperti ini terbatas waktunya di buku peraturan kami ke jangka waktu tiga tahun setelah berlangsung,” tutur Tebas.

Meski begitu, hukuman untuk Barcelona masih bisa datang dari UEFA selaku otoritas resmi yang bertanggung jawab terhadap permasalahan di sepakbola, karena La Liga tak punya batasan serupa terkait jangka waktu kasus.

Pasal 4.02 dalam aturan UEFA menyatakan bahwa organisasi sepakbola tertinggi Eropa memiliki kewenangan membatalkan partisipasi klub dalam kompetisi yang mereka jalankan.

Penerapan veto berlaku jika sebuah klub sudah sah divonis terlibat “kegiatan mengatur atau memengaruhi pertandingan di tingkat nasional”.

Itu artinya, apabila investigasi nanti berujung vonis tersebut, Barcelona kemungkinan akan mendapatkan larangan bermain di kompetisi antarklub Eropa seperti Liga Champions atau Liga Europa.

Tentu ini akan menjadi pukulan hebat terkait sanksi yang cukup membuat kubu Joan Laporta gentar karena bakal kehilangan sektor pemasukan yang sangat berharga di tengah kesulitan ekonomi.

(LN)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*