[Review Film The Social Dilemma] Fakta Ngeri di Balik Media Sosial

Sumber: Netflix

“The media’s the most powerful entity on earth. They have the power to make the innocent guilty and to make the guilty innocent.” – Malcolm X

Sejak awal, media selalu memiliki dua sisi mata koin: menguntungkan sekaligus merugikan, mendidik sekaligus merusak. Karena itu media tidak pernah netral, sebab ia digerakkan oleh manusia yang memiliki kepentingan dan subjektivitas.

Sama halnya dengan media sosial masa kini seperti Facebook, Youtube, Instagram, Twitter, TikTok, dll. Di satu sisi mereka mempermudah komunikasi, namun di sisi lain mereka punya kekuatan untuk mengontrol pikiran serta tindakan kita.

Film dokumenter The Social Dilemma produksi Netflix mengangkat topik ini dengan rapih ibarat disertasi. Mulai dari latar belakang masalah tentang betapa media sosial punya pengaruh yang sangat besar terhadap hidup banyak orang. Kemudian masuk ke rumusan masalah: lantas apa yang salah dari media sosial?

Pertanyaan besar itu dijawab bukan oleh para pakar atau akademisi, namun oleh mereka yang pernah bekerja di perusahaan media sosial tersebut. Bahkan mereka ikut merancang sistem yang membuat pengguna semakin betah berlama-lama di Instagram, Facebook, Youtube, dll.

Mereka adalah Tristan Harris (eks Google), Jeff Seibert (eks Twitter), Bailey Richadson (eks Instagram), Joe Toscano (eks Google), Sandy Parakilas (eks Facebook), Guillaume Chaslot (eks Youtube), Justin Rosenstein (eks Facebook dan Google), dan masih banyak lagi.

Ada Apa dengan Media Sosial?

Secara umum yang dilakukan oleh media sosial adalah membuat kita nyaman untuk menghabiskan banyak waktu di sana, supaya banyak pengiklan masuk dan mereka mendapatkan uang dari situ. Apa yang salah? Bukankah itu juga yang dilakukan oleh pemilik kedai makan, membuat pengunjung betah supaya mau berlama-lama dan terus memesan makanan?

Tidak sesederhana itu. Industri media sosial menjual waktu yang kita pakai untuk mengakses platform mereka. Kita dimanjakan dengan video-video lucu, foto menarik, berita terkini, yang bisa kita akses dengan gratis. Namun di balik itu kita adalah angka yang dijual kepada para pengiklan.

Apa yang kita akses, berapa lama kita mengaksesnya, kata kunci apa yang kita ketik di Google, semua menunjukkan isi pikiran dan perilaku kita. Itulah data yang diperjualbelikan dan membuat mereka mendapatkan banyak keuntungan.

Memicu Depresi Hingga Perpecahan

Mungkin kamu berpikir: “Hey, apa salahnya? Bukankah itu memang bermanfaat untuk industri barang dan jasa?” Betul. Tapi sekali lagi, tidak sesederhana itu. Media sosial memanfaatkan beberapa sifat dasar manusia. Seperti rasa ingin tahu alias kepo, cenderung senang dengan pujian dan menyukai informasi yang sejalan dengan pemikiran pribadi.

Sadarkah kamu bahwa fitur sederhana seperti ‘stories‘ atau bahkan ‘typing‘ di Instagram, membuat kita jadi menghabiskan waktu lebih lama di sana? Karena kita punya rasa ingin tahu.

Fitur ‘likes’ dan ‘dislikes’ mempengaruhi bagaimana mood seseorang seharian. Bahkan komentar pedas dari warganet bisa membuat seseorang stress seharian. Data tahun 2011-2013 (sejak kemunculan media sosial) menunjukkan tingginya angka bunuh diri di Amerika, meningkat hingga 151% dibanding tahun sebelumnya.

Fitur ‘recommended video’ di Youtube misalnya, membawa kita pada informasi-informasi yang cenderung sejalan dengan pilihan pribadi kita. Misalnya kita yang mendukung pilihan politik tertentu, akan disuguhkan video yang mengafirmasi pemikiran kita. Selain membuat kita lebih lama menghabiskan waktu di platform tersebut, jiwa kritis juga terkikis.

Dampaknya, jurang perbedaan pendapat jadi semakin lebar.“Ah, itu kan tergantung penggunanya, saya nggak gitu kok.” Iya mungkin kamu masih bisa berpikir kritis, namun tidak dengan jutaan bahkan miliaran orang lain di luar sana.

Hoaks dan Propaganda

Semua itu jadi semakin berbahaya ketika banyak arus informasi hoaks yang beredar dan memenuhi lini masa kita. Pemilik media sosial hanya melarang konten yang jelas-jelas buruk seperti pornografi atau narkoba. Namun mereka tidak menyaring berita hoaks dan propaganda.

Kalau kamu bilang “bagaimana bisa, media sosial kan sekedar alat yang menyebarkan informasi?” Tidak. Media tidak pernah netral, ada pihak-pihak yang membuat informasi-informasi palsu. Dokumenter ini menceritakan bagaimana informasi yang sepihak, ditambah dengan hoaks dan propaganda, dapat menimbulkan perpecahan di masyarakat. Contohnya seperti ribut-ribut pemilihan presiden, isu tentang bumi datar, Pizzagate, dan yang paling teranyar adalah pro-kontra virus Covid-19.

Media sosial jadi ramai dengan perdebatan-perdebatan, dan para pemilik Facebook, Youtube, dll duduk manis meraup keuntungan besar. Lantas siapa yang membuat kekacauan tersebut? Bisa siapa saja, bahkan negara lain.

“Ini seperti peperangan yang diatur. Satu negara dapat memanipulasi negara lain tanpa benar-benar menyentuh perbatasan fisiknya. Tapi ini bukan tentang siapa yang Anda pilih. Ini tentang menabur kekacauan total dan perpecahan dalam masyarakat. Ini tentang membuat dua pihak tidak lagi bisa mendengar satu sama lain, tidak lagi percaya satu sama lain.”

Tristan Harris

“Kok jahat sih, sengaja bikin ribut gitu? Biar apa sih?” Pertanyaan itu dijawab oleh Sandy Parakilas dan Tristan Harris.

“Kami telah membuat sistem yang bias terhadap informasi palsu. Bukan karena kita ingin, tapi karena informasi yang salah membuat perusahaan lebih banyak menghasilkan uang daripada kebenaran. Kebenaran itu membosankan.”

Sandy Parakilas

“Ini adalah model bisnis disinformation-for-profit. Anda menghasilkan uang semakin banyak Anda mengizinkan pesan yang tidak diatur untuk menjangkau siapa pun dengan harga terbaik.”

Tristan Harris

Tidak ada yang menyangka semua ini bisa terjadi. Mereka yang bicara di dokumenter ini terlibat dalam pembuatan beberapa fitur yang saat ini sering kita pakai di media sosial. Siapa sangka ternyata fitur tersebut punya dampak buruk yang tidak terlihat.

“Saat kami membuat tombol ‘like’, motivasi kami adalah untuk menyebarkan semangat positif dan cinta di dunia. Namun hari ini, remaja jadi tertekan ketika mereka tidak memiliki cukup ‘like’, atau membuat perpecahan kecenderungan politik masyarakat, keduanya tidak ada di radar kami.”

Justin Rosenstein

Jadi Harus Gimana?

Selayaknya disertasi, bagian akhir film dokumenter ini ditutup dengan kesimpulan dan saran. Semua narasumber sepakat bahwa wajar kalau perusahaan media sosial mengejar profit, namun harus ada regulasi yang tegas agar dampak-dampak buruk bisa dicegah. Saat ini kebijakan hukum seperti tertinggal jauh dengan teknologi yang melesat kencang.

Saya akan tutup tulisan ini dengan kutipan yang cukup menendang dari salah satu narasumber, Justin Rosenstein.

“Kita hidup di dunia di mana pohon secara finansial lebih berharga dalam keadaan mati daripada hidup, di mana ikan paus lebih berharga mati daripada hidup. Selama ekonomi kita berjalan seperti itu dan perusahaan tidak diatur, mereka akan terus menghancurkan pohon, membunuh paus. Yang menakutkan adalah melihat bahwa sekarang kita adalah pohon, kita adalah ikan paus. Perhatian kita bisa ‘ditambang’ (menjadi profit). Kita lebih menguntungkan bagi perusahaan jika kita menghabiskan waktu menatap layar, melihat iklan, daripada jika kita menghabiskan waktu itu menjalani hidup dengan cara yang lain.”

Justin Rosenstein

(AA/DB)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*