Wanita dan Sepak Bola: Belajar dari Lyon Hingga ke AS

Sumber: @UWCL

UEFA Women’s Champions League (UWCL), pentas sepak bola wanita kasta tertinggi di Eropa baru berlalu.

Final tahun ini mempertemukan sang juara bertahan dari Perancis, Olympique Lyonnais (OL) Feminin, dengan tim kuat Jerman, WfL Wolsburg Frauen. Kedua kesebelasan yang berlaga di final tahun ini juga merupakan juara pada masing-masing kompetisi domestiknya. OL Feminin sukses menjadi kampiun Division Feminine musim ini, sementara Wolfsburg Frauen adalah pemuncak klasemen akhir Frauen-Bundesliga.

Laga kali ini dihelat di Anoeta Stadium, San Sebastian, Spanyol. Hingga peluit akhir laga dibunyikan, tiga gol OL Feminin yang dicetak Eugenie Le Sommer (25’), Saki Kumagai (44’), dan Sara Bjork Gunnarsdottir (88’), cuma bisa dibalas sekali lewat sundulan Alexandra Popp (55’). Seluruh penggawa OL Feminin pun larut dalam sukacita. Selain membawa pulang trofi juara ke tanah Perancis, OL Feminin pun mencatatkan rekor karena juara tahun ini sekaligus adalah gelar ke-5 nya secara beruntun.

Final telah usai, dan gelaran UWCL 2019/2020 pun resmi berakhir. OL Feminin sekali lagi menegaskan bahwa mereka masih tetap menjadi yang terbaik di Eropa. Musim kompetisi baru pun sudah di depan mata. Sang juara bertahan sudah pasti tetap ingin mempertahankan gelar juaranya, sementara klub-klub lain tentu akan berbenah demi mengusik singgasana OL Feminin. Namun, di sisi lain mungkin banyak pula yang bertanya-tanya, mengapa dominasi klub kota Lyon ini sulit untuk dihentikan. Satu hal yang pasti, semuanya bukan tentang rekor semata.

Spirit Liberte, Egalite, Fraternite

Revolusi Perancis (1789-1799) adalah salah satu titik penting perkembangan peradaban Eropa. Melalui rahimnya lahirlah semboyan Liberte, Egalite, Fraternite (Kebebasan, Persamaan, Persaudaraan) yang tersohor itu. Dari sini, Perancis kemudian bertransformasi secara sosial-politik dari feodalisme monarki, ke masa pengakuan dan penghargaan kepada hak-hak dasar rakyat yang lebih humanis.

Dalam perkembangannya, spirit Liberte, Egalite, Fraternite telah membentuk Perancis modern menjadi negara yang sangat majemuk. Spirit tersebut juga tampak pada bidang olahraga, termasuk sepak bola. Tengoklah komposisi timnas sepak bola Perancis dari masa ke masa yang senantiasa beragam. Siapa yang tidak mengenal Zinedine Zidane, Michel Platini, Paul Pogba, Antoine Griezmann hingga Kylian Mbappe? Mereka adalah bukti nyata bahwa sepak bola Perancis tumbuh dengan baik di tanah Kebebasan, Persamaan dan Persaudaraan.

Sepak bola memiliki kultur yang kuat dalam kehidupan masyarakat Perancis. Paris, Saint Etienne, Marseille dan Lyon adalah beberapa kota yang terkenal lewat klub-klub sepak bolanya. Saat ini, sokongan finansial yang melimpah membuat PSG terasa sukar ditandingi di kompetisi domestik. Namun, patut diingat bahwa gelar juara terbanyak Ligue 1 Perancis masih dipegang oleh AS Saint Etienne. Atau Olympique Marseille sebagai satu-satunya wakil Perancis yang pernah menjadi raja di kompetisi sepak bola tertinggi Eropa. Jangan pula mengabaikan Olympique Lyonnais yang masih memegang rekor sebagai jawara tujuh musim beruntun.

Lyon adalah kota terbesar ke-3 di Perancis. Dalam persepakbolaan, kota yang terletak di tepi bagian utara Sungai Rhone ini memang lebih dikenal lewat Olympique Lyonnais (OL). Selain gelar domestik, nama-nama tenar semisal Juninho Pernambucano, Karim Benzema, dan Eric Abidal pernah turut ambil bagian dalam membesarkan nama OL. Teranyar, OL menjadi kuda hitam yang menyingkirkan Juventus dan Manchester City dalam gelaran UEFA Champions League (UCL) 2019/2020.

Namun, belum banyak yang tahu bahwa saudari mereka, Olympique Lyonnais Feminin adalah klub sepak bola wanita dengan banyak prestasi. Bahkan, jika membandingkan raihan gelar dua klub bersaudara ini (tanpa melihat gender), bisa dibilang OL Feminin lebih bergelimang prestasi. Raihan 14 gelar juara liga domestik beruntun dari 2007-2020, ditambah 7 gelar UWCL (lima di antaranya beruntun dari 2015-2020) kiranya cukup membuktikan kehebatan OL Feminin.

Bisa jadi argumen untuk dominasi OL Feminin adalah karena mereka belum memiliki lawan yang sepadan. Namun alasan lain (positif) atas  keberhasilan OL Feminin ini adalah karena mereka telah membuktikan bahwa dengan spirit kebebasan, persamaan dan persaudaraan, plus dukungan dari manajerial yang baik, mereka akhirnya bisa meraih semua pencapaian tersebut. Lebih jauh, pancapaian tersebut juga bermanfaat bagi perkembangan dan kemajuan sepak bola wanita, bukan hanya di Perancis, tetapi di seluruh dunia.

Bagi banyak pesepakbola wanita dan klub-klub sepakbola wanita, OL Feminin adalah sumber inspirasi atau kiblat dalam bersepakbola. Beberapa pemain timnas wanita Amerika Serikat (AS) seperti Megan Rapinoe, Alex Morgan, atau Hope Solo, bahkan rela jauh-jauh menyeberangi lautan untuk bermain di OL Feminin. Ya, bisa jadi di mata mereka OL Feminin adalah simbol perjuangan dan kemajuan sepak bola wanita. Bermain di OL Feminin layaknya mimpi yang menjadi kenyataan.

Wanita dan Sepak Bola

Menyandang status sebagai olah raga paling populer di dunia, sepak bola selalu menjadi topik bincang yang hangat, pun tema debat nan seru. Bahasan tentang sepak bola adalah bahasan universal. Sepak bola menjadi milik bersama yang tidak mengenal sekat atau batasan dalam bentuk apapun. Ia hadir untuk dimainkan, dinikmati, atau bisa juga sekadar untuk dikomentari oleh semua kalangan.

Saat ini, topik tentang sepak bola sering terasa monoton. Pembahasannya terkesan hanya yang “itu-itu saja”, yakni mencari kebenaran tentang siapakah yang lebih hebat di antara Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo. Pendukung Messi maupun Ronaldo kerap saling membandingkan teknik dan skill, jumlah gelar yang diraih, banyaknya fan atau pengikut di media sosial, hingga pendapatan atau kekayaan masing-masing. Sering terselip juga bahasan tentang Neymar Jr atau pun Kylian Mbappe, darah muda yang acapkali dibilang penerus kebintangan Messi dan Ronaldo. Namun, Neymar atau Mbappe pun hanyalah pemanis dari kisah Messi-Ronaldo yang belum diketahui kapan akan berakhir.

Harus diakui bahwa Messi dan Ronaldo masih menjadi pesebakbola terbaik saat ini. Messi dan Ronado, meskipun saling menjadi antagonis satu sama lain, namun mereka tetaplah menjadi protagonis-nya jagad sepak bola. Walau berada di usia “penghujung” karir pesepakbola, pencapaian atau pun rekor keduanya masih terus mengalir. Maka sah-sah saja jika dunia sepak bola seakan-akan masih dimiliki keduanya. Sayangnya, di satu sisi hal tersebut justru semakin menguatkan pola pikir tradisional: sepak bola adalah olah raga kaum lelaki.

Sepak bola memang kerap diidentikkan dengan sisi maskulin, karena masih didominasi oleh kaum lelaki. Laga di lapangan yang senantiasa melibatkan kontak fisik, adu kecepatan dan kekuatan, bahkan kerap berdarah-darah, dipandang sebagai simbol kaum pria. Maka wanita dengan segala atribut feminim-nya sering dianggap tidak tepat untuk cabang olah raga ini. Pesepakbola wanita, entah itu di level profesional maupun amatir, akhirnya masih  dipandang sebelah mata.

UCL musim 2019/2020 baru saja usai ketika Bayern Munchen mengklaim gelar ke-6 nya setelah mengalahkan PSG di laga final dengan skor 1 – 0. Namun, sepertinya tidak banyak yang tahu bahwa berselang seminggu dari final di Lisbon tersebut, tersaji juga final UWCL di Anoeta Stadium, San Sebastian, Spanyol. Sudah tentu pula tidak banyak yang tahu kesebelasan mana yang bertanding, siapa juaranya, atau pula pencetak golnya. Maklum, UWCL masih kalah pamor dari saudara kandungnya UCL, suatu bukti nyata bahwa sepak bola wanita memang masih dipandang sebelah mata.

Sepak bola wanita memang masih belum sepopuler sepak bola pria. Namun, dalam perjalanannya ia terus mengalami perkembangan dan kemajuan. Menilik ke belakang, pesepakbola wanita yang paling diingat mungin hanyalah Marta dari Brasil. Pemilik nama lengkap Marta Vieira da Silva ini dipandang sebagai pesepakbola wanita terbaik sepanjang masa. Ini dibuktikan dengan raihan Pemain Terbaik FIFA sebanyak enam kali, lima di antaranya ia raih secara beruntun dari 2006 – 2010.

Setelah Marta, sosok pesepakbola wanita kembali tenggelam. Alex Morgan dan Hope Solo (AS), Louisa Necib (Perancis), Anouk Hoogendijk dan Lieke Martens (Belanda), Kosovare Asllani (Swedia), Alisha Lehmann (Swiss), atau pun Lee Mina (Korea Selatan) yang sempat populer. Namun publik justru mengenal mereka karena parasnya yang cantik, bukan karena skil dan teknik olah bolanya.

Tahun lalu, Megan Rapinoe sempat dikenal karena sebagai kapten ia berhasil membawa Timnas Wanita Amerika Serikat menjadi juara Pala Dunia Wanita 2019. Tetapi adakah yang tahu Wendie Renard, sang kapten dan defender yang membawa Lyon menjadi jawara pada malam di San Sebastian? Atau Delphine Cascarino, sayap kanan Lyon yang kerap merepotkan pertahanan Wolfburg lewat gocekan mautnya, sekaligus dinobatkan sebagai Player of the Match laga final tersebut? Juga berapa banyak dari kita yang tahu Vivianne Miedema, striker Arsenal yang dengan 10 golnya menyabet penghargaan top skor UWCL edisi kali ini? Jadi mungkin bisa diamini, jika tidak berparas cantik dan bertubuh molek, pesepakbola wanita cenderung dilupakan.

Meskipun belum setara dengan sepak bola kaum pria, namun kemajuan dan perkembangan sepak bola wanita perlu diapresiasi. Ranking FIFA terbaru bagi timnas wanita (14 Agustus 2020), menunjukkan bahwa 10 besar posisi di dalamnya ditempati AS (posisi 1) dan negara-negara Eropa (Jerman ke-2, diikuti berturut-turut Perancis, Belanda, Swedia dan Inggris). Sepak bola wanita di negara-negara tersebut boleh dibilang sudah lebih maju, sebab memiliki kompetisi domestik tahunan yang rutin, fasilitas latihan modern, serta manajemen klub yang profesional.

Kemajuan sepak bola wanita (di Eropa) juga bisa dilihat dari didirikannya klub-klub sepak bola wanita baru. Raksasa Italia Juventus FC mendirikan Juventus Women pada 2017, lalu di Inggris Manchester United Women FC lahir pada 2018, dan Spanyol dengan dibentuknya Real Madrid Femenino pada 2019 lalu. Walaupun baru dibentuk, namun ini adalah suatu pertanda baik bahwa sepak bola wanita kian hari kian diperhatikan. Terlebih karena klub-klub baru tersebut merupakan bagian dari klub-klub besar yang sudah maju dan modern.

Kewajiban Sama, Hak Berbeda

Bagi AS atau pun negara-negara Eropa lainnya, sepertinya sepak bola wanita tampak baik-baik saja. Jalan menuju kesetaraan dengan sepak bola pria tampaknya masih mulus. Kesetaraan bukan sekedar mimpi belaka, melainkan semakin menuju kenyataan.

Namun di balik yang yang tampak “baik-baik saja” itu, ternyata masih ada persoalan yang juga sedang diperjuangkan. Persoalan yang kini tengah diperjuangkan ialah menyangkut kesejahteraan para pesepakbola wanita. Sebagai atlet profesional, mereka juga tentu menginginkan gaji atau upah kerja yang layak. Bahkan, banyak suara dari pesepakbola wanita yang menginginkan kesetaraan upah dengan pesepakbola pria.

Mei 2020 lalu, majalah Forbes merilis daftar nama para atlet dengan bayaran tahunan tertinggi, termasuk para pesepakbola. Rilis tersebut menunjukkan bahwa atlet dengan bayaran tertinggi masih didominasi oleh kaum pria. Untuk pesepakbola, Messi, Ronado dan Neymar Jr berurutan menempati posisi kedua hingga keempat (peringkat 1 ditempati petenis Roger Federer). Posisi Messi dan Ronaldo tahun ini pun “terpaksa” turun akibat pandemik Covid-19, setelah pada tahun-tahun sebelumnya keduanya saling bergantian menguasai posisi puncak.

Menurut laporan Forbes, Ronaldo menerima bayaran dengan total 105 juta dolar AS, unggul dari Messi yang “cuma” meraup 104 juta dolar AS. Ronaldo disebut-sebut sebagai pesepakbola pertama dalam sejarah yang mampu mengumpulkan 1 miliar dolar AS sepanjang karir sepak bola profesionalnya. Jika dirincikan, kekayaan penyerang Juventus tersebut terdiri atas 650 juta dollar AS pendapatan sepanjang 17 tahun karirnya sebagai pesepakbola, dan 765 juta dolar AS dari nilai kontraknya bersama Juventus yang baru berakhir pada 2022 mendatang.

Forbes juga merilis daftar nama atlet wanita dengan bayaran tertinggi tahun ini. Nama Alex Morgan muncul sebagai pesepakbola wanita dengan penghasilan tertinggi, yakni menghasilkan 4,6 juta dolar AS. Namun ia hanya berada di urutan ke-10 dalam daftar yang dirilis Agustus kemarin. Untuk ukuran atlet wanita, penghasilannya masih jauh dari peringkat pertama, petenis Naomi Osaka dengan total pendapatan 34,7 juta dolar AS. Alex Morgan menjadi satu-satunya atlet wanita di luar cabang tenis yang menembus posisi 10 besar daftar tersebut.

Daftar tersebut menunjukkan bahwa memang terdapat ketimpangan yang besar pada penghasilan pesepakbola wanita dan pria. Jangankan membandingkan antara Alex Morgan dan Ronaldo, penghasilan Naomi Osaka sebagai atlet wanita terkaya saja masih kalah jauh dari Ronaldo.

Tetapi jika berbicara soal ketimpangan penghasilan pesepakbola wanita dan pria, mungkin bisa dimaklumi mengingat sepak bola pria masih lebih populer dibandingkan wanita. Kepopuleran sepak bola pria sangat berpengaruh terhadap pendapatan yang mereka terima, karena pasti berkaitan dengan sponsor, hak siar, atau pun bonus-bonus komersil lainnya. Sepak bola pria, terutama kompetisi antarklub, merupakan lahan bisnis yang senantiasa menarik perhatian sponsor.

Namun, sepak bola bukan Cuma terdiri atas kompetisi antarklub. Ada pula kewajiban untuk membela negara pada pertandingan dan kompetisi antarnegara. Pada level timnas wanita, kompetisi tertingginya adalah Piala Dunia (PD) Wanita yang telah digelar sejak 1991, atau berselang 61 tahun dari Piala Dunia pertama untuk pria. Dari delapan kali penyelengaraannya, timnas wanita AS telah menjadi juara sebanyak 4 kali, Jerman 2 kali, dan Norwegia dan Jepang masing-masing sekali. Selain Jerman, ditribusi gelar juara PD Wanita ini menunjukkan bahwa timnas putri AS, Norwegia, serta Jepang boleh dibilang lebih berprestasi dibandingkan timnas prianya.

Alasan prestasi timnas putri yang lebih baik dibandingkan timnas putra tersebut kemudian memunculkan tuntutan dari pesepakbola wanita agar mereka memperoleh upah yang sama dengan pesepakbola pria, khususnya dari anggota timnas wanita AS selepas PD Wanita 2019 lalu. Menurut mereka, meskipun telah menjalankan kewajiban yang sama dengan timnas pria AS, namun hak yang mereka peroleh sangat jauh berbeda. Bahkan bagi sebagian publik AS, prestasi timnas wanitanya di ajang PD Wanita dipandang melampaui pencapaian timnas pria, sehingga hak yang harus mereka terima (upah) pun seharusnya lebih daripada yang diterima timnas prianya.

Tidak hanya upah, ketimpangan juga bisa dilihat dari hadiah yang diterima timnas AS dalam gelaran piala dunia masing-masing. Sebagai perbandingan, ketika timnas Jerman (pria) menjadi juara PD 2014, mereka mendapat hadiah sebesar 35 juta dolar AS, sementara timnas wanita AS yang menjuarai PD Wanita 2015, hanya memperoleh hadiah sebesar 2 juta dolar AS. Hadiah yang diterima timnas wanita AS tersebut bahkan berselisih sangat jauh dari timnas pria AS yang walaupun tersingkir di babak 16 besar PD 2014, memperoleh hadiah sebesar 8 juta dolar AS. Ini adalah bukti nyata bahwa ketimpangan antara sepakbola wanita dan pria memang masih sangat besar. Mereka punya kewajiban yang sama, namun menerima hak yang berbeda.

Megan Rapinoe, kapten timnas wanita AS menjelaskan bahwa tuntutan yang mereka sampaikan ternyata bukan sekedar soal memperjuangkan kesetaraan upah. Poin penting yang terkandung di dalam tuntutan tersebut adalah mau mengajarkan agar semua perempuan di AS, bahkan di seluruh dunia, bisa bersama-sama berjuang melawan ketidaksetaraan, siapapun mereka, entah sebagai atlet ataupun profesi di bidang lainnya. Wanita harus dihargai dan diperlakukan setara dengan kaum pria. Mantan AS Presiden Barack Obama, saat bertemu timnas wanita AS usai mereka menjuarai PD Wanita 2015, memuji pencapaian mereka dengan berkata, “This team taught all America’s children that playing like a girl means you’re a badass (the best)”.

Suara-suara perjuangan melawan ketidaksetaraan dalam sepak bola wanita, khususnya terkait hak (upah) akhirnya mulai mendapat angin segar. Football Association (FA) di Inggris dalam laporannya pada awal September 2020, menyampaikan bahwa pesepakbola Inggris, baik pria maupun wanita, telah diberikan upah yang sama sejak Januari 2020. Selain Inggris, Brasil melalui induk organisasi sepakbolanya, Confederacao Brasileira de Futebol (CBF), juga merilis pernyataan bahwa akan memberlakukan upah yang sama bagi pesepakbola pria dan wanitanya. Kebijakan tersebut akan  berlaku pada Olimpiade dan Piala Dunia edisi mendatang. Banyak yang berharap bahwa langkah Inggris dan Brasil ini kemudian akan secara perlahan diikuti pula oleh negara-negara lainnya.

Apa Kabar Indonesia?

Setelah membahas panjang lebar mengenai sepak bola wanita di mancanegara, seharusnya kita pun tidak melupakan sepak bola wanita tanah air. Untuk hal ini memang harus kita akui bahwa Indonesia masih sangat tertinggal dalam pembinaan dan pengembangan sepak bola wanita. Di tingkat regional (ASEAN) saja kita masih kalah dari Thailand yang barusan tampil pada Piala Dunia Wanita 2019.

Thailand memang gagal total pada kompetisi tersebut. Mereka menempati posisi juru kunci babak penyisihan grup dengan hanya mencetak satu gol dan kebobolan 20 gol (termasuk saat dibantai sang juara dunia AS dengan skor 13 – 0). Satu gol Thailand yang dicetak pada laga kedua versus Swedia, bahkan sampai membuat sang manajer Nualphan Lamsam menangis. Tangisnya bukan untuk meratapi kekalahan, namun itu adalah tangis haru bercampur bangga. Sepakan keras Kanjana Sungngoen yang berujung gol itu adalah simbol dari kerasnya perjuangan mereka selama bertahun-tahun. Diceritakan bahwa Thailand nyaris saja batal berangkat ke Piala Dunia Wanita jika Nualphan Lamsam tidak berkorban dengan memberikan bantuan finansial dari sumber pribadinya.

Lantas bagaimana dengan kita, Indonesia? Berharap mengikuti jejak Thailand untuk berlaga di Piala Dunia Wanita dalam waktu dekat tentu terkesan sangat muluk. Lihat saja bagaimana prestasi timnas sepakbola pria kita yang juga masih miskin prestasi. Atau bagaimana buruknya manajemen kompetisi domestik yang tiap tahun tidak pernah sepi dari masalah. Belum termasuk jika menyebut fanatisme berlebihan suporter sepak bola tanah air yang sering meminta tumbal nyawa. Ketika sepak bola pria saja masih perlu berbenah di sana-sini, maka otomatis sepak bola wanita akan semakin terpinggirkan.

Terpinggirnya sepak bola wanita di Indonesia terbukti dengan belum adanya sosok pesepakbola wanita yang dikenal banyak orang. Saat ini baru sang kapten, Zahra Muzdalifah yang cukup populer. Namun sekali lagi, umumnya berita tentang Zahra pun lebih didominasi tentang parasnya yang cantik, atau gosip seputar kehidupan pribadinya. Masyarakat kita justru lebih tertarik dengan hal-hal yang tidak berkaitan dengan kemampuan sepak bolanya. Bagaimana sepak bola wanita kita mau maju dan berkembang jika pola pikir terbelakang macam ini masih tumbuh dengan suburnya?

Tahun 2019 adalah sejarah baru bagi sepak bola wanita Indonesia. Perhatian terhadap sepak bola wanita Indonesia akhirnya berwujud nyata lewat lahirnya Liga 1 Putri. Klub-klub yang ikut ambil bagian dalam kompetisi ini adalah saudari muda dari klub-klub Liga 1. Total ada 10 klub yang mengikuti gelaran kali pertama ini, dengan Persib Putri keluar sebagai jawaranya. Sayangnya, kompetisi ini pun sepertinya masih jauh dari perhatian publik ataupun sorot media. Jangankan disiarkan secara langsung, diberitakan lewat media cetak atau daring pun hampir tidak ada.

Ketidaksetaraan yang dialami oleh pesepakbola wanita di Indonesia bisa dibilang adalah masalah yang lebih kompleks jika dibandingkan dengan AS ataupun negara-negara maju lainnya. Untuk Indonesia, ketidaksetaraan ini juga dipengaruhi oleh faktor budaya kita yang masih sangat kental memandang wanita sebagai kelompok kelas dua, di bawah kaum pria. Budaya patriarki yang kuat ini menyebabkan kaum wanita yang ingin berkarir sebagai pesepakbola profesional menjadi terhambat. Jangankan berkarir, karena untuk sekadar bermain sepak bola pun masih sangat sulit dilakukan oleh perempuan Indonesia. Perempuan Indonesia yang bermain sepak bola dianggap aneh, atau Cuma menjadi bahan tertawaan.

Contoh kecilnya adalah setiap Agustusan ketika banyak diadakan kegiatan dan perlombaan menyambut HUT Kemerdekaan Indonesia. Salah satunya kegiatan yang biasa dilakukan adalah pertandingan sepak bola kaum pria. Namun dengan dalih untuk lebih menarik dan menghibur, pemain yang bertanding diwajibkan berpakaian wanita (berdaster). Mereka kemudian menjadi bahan tertawaan dan olok-olok penonton. Tanpa kita sadari, melalui tawa itu kita justru telah merendahkan sepak bola wanita. Di situ secara tidak langsung kita memandang kaum wanita (yang disimbolkan oleh daster) tidak lebih daripada sebuah lelucon atau hiburan belaka.

Maka, perjuangan sepak bola kaum wanita di Indonesia adalah jalan perjuangan yang masih sangat panjang. Perjuangan tersebut juga bukan hanya tugas dari kaum perempuan semata, tetapi menjadi tugas kita bersama. Bermain di Piala Dunia adalah mimpi yang masih terlampau tinggi bagi kita. Namun, mimpi itu bisa menjadi kenyataan manakala persepakbolaan di tanah air telah dijalankan dengan baik, bukan hanya bagi kaum pria, namun juga bagi kaum wanitanya.

Salam sepak bola, salam olahraga.

(FA)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*