Review Film Uncle Tom (2020): Perspektif Baru bagi Isu Rasisme di AS

Sumber: www.movieguide.org

Amerika Serikat (AS), sang “adidaya”, tengah dilanda gejolak internal akibat isu rasisme. George Floyd dan Jacob Blake, warga kulit hitam AS yang meninggal secara sadis di tangan polisi kulit putih, seketika langsung membakar kemarahan kaum kulit hitam AS. Memanasnya isu rasisme ini tampak dalam gerakan Black Lives Matter atau pun tagar #blacklivesmatter, yang kini bahkan menggema di berbagai penjuru dunia. Gerakan ini kembali muncul demi memperjuangkan keadilan dan kesetaraan kaum kulit hitam (Afrika-Amerika) dengan kelompok kulit putih. Terutama keadilan dan kesetaraan di mata hukum.

Isu rasisme, baik di AS maupun di dunia, juga kerap diangkat melalui film. 12 Years a Slave (2013), Detroit (2017), atau pun The Help (2011) adalah beberapa contoh film bertema rasisme di AS. Namun, sepertinya ketiga film tersebut masih mengangkat rasisme dalam sudut pandang yang sama: mempertahankan pola pikir bahwa orang kulit hitam AS selalu berada pada posisi sebagai korban; selalu ditindas kaum kulit putih. Karena itu, kaum kulit putih selalu berseberangan dan harus dilawan.

Uncle Tom (2020) berbeda dengan film-film yang telah disebutkan tadi. Film dokumenter ini menyajikan berbagai pendapat serta pandangan dari para tokohnya terhadap rasisme di AS. dari Film arahan Justin Malone ini mau memberikan gambaran, sekaligus sedikit membedah isu rasisme di AS dengan cara berpikir baru. Cara berpikir baru ini ternyata tidak populer, bahkan banyak mendapat pertentangan dari kaum kulit hitam AS sendiri. Mereka yang punya perspektif baru ini justru diejek dengan istilah “Uncle Tom”.

Asal Muasal “Uncle Tom”

Chad O. Jackson, tokoh dalam film ini, mengawali dengan coba menjelaskan arti istilah Uncle Tom. “Setiap kali seseorang menyebut Anda Uncle Tom, yang mau mereka sampaikan adalah entah Anda tidak menyukai orang kulit hitam dan Anda melihat semua orang kulit hitam sebagai sampah, atau mereka mau menyampaikan bahwa, Oh, Anda hanya mencoba agar cocok dengan orang kulit putih. Anda mencoba untuk diterima di antara orang kulit putih. Jadi, saya ingin menyebut Anda kata yang merendahkan ini, untuk mengingatkan di mana tempat Anda dan untuk mengingatkan bahwa Anda tidak akan pernah diterima oleh orang kulit putih. Anda akan selalu menjadi seorang negro hitam”, kata Jackson.

Kalimat di atas secara singkat menjelaskan pengertian istilah “Uncle Tom” di AS. Istilah ini digunakan khususnya oleh kelompok kulit hitam AS, terhadap sesama saudara mereka, minoritas kulit hitam yang dianggap pro kulit putih. Mereka dipandang sebagai “pengkhianat”, sebab memandang diri mereka setara atau ingin hidup seperti layaknya mayoritas kaum kulit putih.

Jika ditelusuri, istilah Uncle Tom muncul dari novel Uncle Tom’s Cabin – nya Harriet Beecher Stowe tahun 1852. Novel ini merupakan novel terlaris pada abad ke-19. Novel tersebut berkisah tentang perbudakan di Amerika dan perjuangan kebebasannya.

Tokoh utama novel tersebut salah satunya adalah Uncle Tom. Ia memimpikan kehidupan yang lebih baik. Setelah berpindah dari satu tuan ke tuan lainnya, Uncle Tom ingin kembali ke perkebunan Mr Shelby, majikan kulit putihnya yang sangat menghargai hak-hak kaum budak. Dalam cerita, Uncle Tom dijual sebagai budak kepada Mr Legree yang kejam. Namun, keluarga Shelby dan Chloe (istri Tom) bekerja keras demi menebus Uncle Tom.

Akhir cerita tragis terjadi ketika George Shelby (anak Mr dan Mrs Shelby) tiba di perkebunan Legree untuk menjemput Uncle Tom. Namun terlambat karena Uncle Tom sudah sekarat dan akhirnya meninggal. Uncle Tom berpesan agar George tidak memberitahukan kematiannya kepada istrinya. Setelah peristiwa itu, George memutuskan untuk membebaskan semua budak yang ada di perkebunan Mr Legree.  Ia juga mengajarkan mereka berjuang melawan perbudakan.

Kedekatan Uncle Tom (kulit hitam) dengan keluarga Shelby (kulit putih) lalu membangun pemikiran bahwa ia adalah seorang pengkhianat ras kulit hitam. Ia dinilai lupa bahwa sebenarnya perbudakan kaum kulit hitam lahir dari tangan kaum kulit putih. Aneh memang, sebab di tengah banyaknya tuntutan kaum kulit hitam AS akan keadilan dan persamaan, mereka justru tetap ingin melanggengkan pemikiran lama, bahwa kaum kulit hitam dan kulit putih itu berbeda dan tidak setara. Bahwa kaum kulit hitam selalu ditindas oleh kulit putih.  

Persepsi yang Keliru

Istilah Uncle Tom lantas menghadirkan minoritas dalam minoritas. Kaum kulit hitam yang sadar bahwa mereka adalah warga negara AS dengan hak dan kewajiban yang sama dengan kaum kulit putih, justru dipandang sebagai pro kulit putih. Ketika kaum kulit hitam hendak berjuang untuk diterima dalam komunitas kaum kulit putih, mereka justru dipandang sebagai pengkhianat.

“Mereka meyakini bahwa jika seorang kulit hitam memperjuangkan apa yang menjadi haknya, mereka sudah menjual dirinya (kepada kaum kulit putih). Mereka adalah Uncle Tom. Yang otaknya sudah dicuci oleh orang kulit putih,” kata Jesse Lee Peterson dalam film tersebut. Padahal, terpilihnya Barack Obama (tanpa melihat partai dia berasal) sebagai Presiden AS selama dua periode, justru dipandang oleh kelompok Uncle Tom sebagai sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Mimpi inilah yang dahulu selalu disampaikan oleh pejuang hak-hak sipil Martin Luther King Jr: memiliki Presiden AS berkulit hitam.

Sayangnya, minoritas kulit hitam AS telah terpecah antara Uncle Tom dan yang anti Uncle Tom. Bagi yang anti Uncle Tom, mereka cenderung menuduh kaum kulit putih sebagai penyebab semua masalah. Misalnya ketika gagal dalam seleksi pekerjaan, mereka justru berpikir hal tersebut disebabkan karena orang kulit putih memiliki keistimewaan dalam proses seleksinya. Jadi ketika  gagal, alih-alih mau berusaha kembali, mereka menyalahkan semuanya kepada kaum kulit putih.

Beberapa figur dalam film ini yang disebut sebagai Uncle Tom menyadari bahwa kaum kulit hitam AS telah hidup dan bertumbuh dalam pola pikir yang salah. Pola pikir ini sudah ditanamkan sejak mereka lahir. Pola pikir keliru tersebut adalah bahwa karena mereka terlahir sebagai orang kulit hitam, maka mereka sudah pasti mengalami ketidakadilan, sekalipun punya potensi atau kemampuan.

“Saya tumbuh dengan ajaran tentang ketidakberuntungan saya sebagai serang kulit hitam. Bahwa negara ini berlaku tidak adil kepada kaum kulit hitam. Dan karena saya seorang kulit hitam, saya tidak akan pernah mampu melakukan sesuatu”, ucap Chad O. Jackson. Ia juga menambahkan bahwa anak-anak kulit hitam seperti diajarkan untuk tidak memiliki kepercayaan diri. Brandon Tatum kemudian menambahkan bahwa hal tersebut menjadi semacam ideologi baru. “Tanpa disadari, ideologi ini telah ditanamkan (pada kaum kulit hitam), sehingga kami mempercayai hal-hal tersebut”, katanya.

Kekeliruan persepsi (ideologi) ini hendak diperbaiki oleh kelompok yang justru dicap sebagai Uncle Tom. Kaum kulit hitam telah hidup dalam ketakutan terhadap negara, juga takut terhadap lingkungannya. “Ini bagaikan penyakit kanker yang mewabah dalam pemikiran setiap warga kulit hitam AS”, ujar Candace Owens. Akibatnya, kaum kulit hitam AS hidup dengan memiliki pikiran negatif tentang sesamanya yang berkulit putih.

Persepsi keliru tersebut akhirnya menyebabkan kaum kulit hitam AS mengabaikan pentingnya pendidikan. Sepertinya mereka telah terjebak dalam pemikiran bahwa pendidikan pun pada akhirnya akan sia-sia, sebab orang kulit putih selalu diuntungkan dalam sistem sosial di AS. Padahal bagi kelompok Uncle Tom, pendidikan itu justru dipandang sebagai kunci dari keberhasilan individu. Kemajuan tidak ditentukan dari warna kulit. Akibat abai terhadap pendidikan, kaum kulit hitam AS justru sering disamakan dengan rapper, pengedar narkoba, hingga beragam stereotip negatif lainnya.

Demokrat vs Republik

Persepsi keliru tentang rasisme di AS, ditambah lagi kurangnya pendidikan, khususnya di kalangan warga kulit hitam AS, menyebabkan isu rasisme kemudian dipolitisasi. Warna kulit menjadi “lahan basah” dalam kontestasi politik di AS. Untuk hal ini, Partai Demokrat kemudian dianggap sebagai sahabat warga kulit hitam karena selalu memperjuangkan hak-hak mereka. Di sisi seberang, Partai Republik, dipandang sebagai partainya kaum kulit putih. Partai Republik secara otomatis menjadi “musuh” bagi warga kulit hitam AS. Mereka digambarkan selalu mengutamakan kepentingan warga kulit putih, dan karena itu harus dilawan.

John F. Kennedy (JFK), mendiang Presiden AS dari Partai Demokrat dipandang sebagai figur Demokrat, sekaligus Presiden AS yang peduli terhadap hak-hak warga negara kulit hitam. JFK gigih berjuang mempengaruhi anggota Kongres AS (DPR dan Senat) untuk mengesahkan Civil Rights Act di AS. Kennedy juga mendapat tempat di hati para warga kulit hitam, karena ia mengungkapkan rasa simpati dan dukungannya saat Martin Luther King Jr dipenjara dengan menelpon Coretta Scott King, (istri Martin Luther King Jr).

Keyakinan warga kulit hitam AS bahwa mereka adalah bagian dari Partai Demokrat menguat sejak tahun 1960-an. Tahun 1964, Civil Rights Acts disahkan oleh Presiden Lyndon Johnson. 1965, Presiden Lyndon B. Johnson mengesahkan Voting Rights Acts. Disahkannya dua undang-undang (UU) tersebut, membuat kaum kulit hitam semakin “jatuh hati” pada Partai Demokrat. Dua UU tersebut adalah I Have a Dream-nya Martin Luther King Jr yang menjadi nyata. UU tersebut mengandung harapan dari warga kulit hitam AS akan kesempatan yang sama, status sebagai warga negara yang sama, serta punya kesempatan di bidang ekonomi yang sama.

Akibat diusulkan dan disahkan oleh figur Demokrat, banyak yang mengabaikan peran anggota kongres dari Partai Republik yang juga berandil besar bagi pengesahan dua UU tersebut. “Yang membantu Civil Rights Act agar bisa lolos dan disahkan, justru adalah para anggota senat dari Partai Republik yang dipimpin oleh Everett Dirksen”, kata Kolonel Allen B. West.

Larry Elder lalu menambahkan, “Warga kulit hitam diajar untuk berpikir bahwa Partai Demokrat selalu menjadi pendukung ketika ada perjuangan menyangkut hak-hak sipil dan keadilan ras, sementara Partai Republik tidak peduli terhadap hal tersebut”. Pemikiran itu diwariskan turun-temurun sehingga mereka melupakan beberapa tokoh Republikan seperti Abraham Lincoln, William Taft, ataupun anggota-anggota Kongres AS dari Partai Republik yang turut memperjuangkan hak-hak sipil. Mereka juga seakan lupa bahwa Jim Crow Laws justru banyak didukung oleh pihak Demokrat.

Selain itu, hadirnya kelompok supremasi kulit putih Klu Klux Klan (KKK) juga diyakini sebagai cara yang dipakai untuk menekan warga kulit hitam AS guna memberikan suaranya bagi Partai Demokrat. Warga kulit hitam AS dipaksa memberikan suaranya dalam pemilu bagi Partai Demokrat, karena jika tidak maka anak mereka akan dihabisi oleh KKK. Hal ini tetap berlangsung sampai sekarang, bedanya adalah saat ini mereka yang tidak memilih Partai Demokrat dikatakan akan menjadi korban dari Partai Republik. 

Terkini, Donald J. Trump, petahana yang kembali maju di pemilihan presiden (pilpres) AS 2020 kembali dikaitkan dengan isu rasisme. Sebagai seorang Republikan, Trump selalu dibilang sebagai anti kaum kulit hitam. Demokrat yang kalah dari Trump pada pilpres sebelumnya kembali mengangkat isu ini. Apalagi di tengah banjir tagar #blacklivesmatter dan gejolak dalam negeri AS akibat isu rasisme, Demokrat seakan melihatnya sebagai momentum untuk mengalahkan Trump di tarung jilid ke-2 ini. Warga kulit hitam AS, yang karena sudah lebih dahulu membenci kaum kulit putih dan Partai Republik, sepertinya tidak sadar bahwa mereka telah dimanfaatkan demi tujuan politik.

Uncle Tom sebagai sebuah film dokumenter sebenarnya menawarkan sebuah perspektif baru dalam melihat masalah rasisme di AS. Tokoh-tokoh dalam film ini memang cenderung terlihat sebagai pendukung Partai Republik. Namun mereka bukanlah pembenci Partai Republik. Pemikiran dan pendapat mereka yang terkesan sejalan dengan Partai Republik sebenarnya mengandung ajakan kepada warga kulit hitam AS untuk berpikir lebih kritis terhadap isu rasisme. Ini adalah ajakan untuk menjadi sadar, tahu dan paham dalam melihat rasisme di AS secara lebih kompleks sekaligus objektif.

(FA)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*