Kalau kamu sudah menemukan judul film ini, jangan pikir panjang, jangan terlalu banyak baca review, lebih baik langsung tonton untuk mendapatkan sensasi ‘wow’ yang maksimal. Karena film yang diangkat dari kisah nyata ini memang sebagus itu!
Plot-nya sederhana. Ada mahasiswa dari University of Kentucky terkagum-kagum sama buku langka John James Audubon berjudul “Birds of America” yang dipajang di perpustakaan Transylvania University. Terus doi cerita sama temannya si anak bandel yang suka tantangan. Dari obrolan itu, tercetuslah ide gila untuk mencuri buku langka tersebut dan menjualnya ke pasar gelap. Untuk melancarkan aksinya, mereka mengajak dua orang mahasiswa lain yaitu si paling akuntan dan si paling kaya.
Tentu ini nggak semudah pinjam buku di perpustakaan itu terus pura-pura lupa balikin seperti yang mungkin pernah kamu lakukan. Buku itu nggak boleh dipinjam karena koleksi super langka. Lokasinya aja di ruangan khusus tersendiri. Empat orang pencuri culun ini pede bisa ambil buku itu karena penjagaan perpustakaan yang minim, maksudnya nggak kayak bank gitu lho. Tapi mereka masih terlalu belia untuk memahami bahwa menjadi pencuri itu butuh lebih dari sekedar kepercayaan diri.
Nah, kalau kamu nggak mau spoiler, lebih baik stop baca tulisan ini dan tonton langsung filmnya. Karena setiap menitnya, film ini berhasil bikin mulut melongo, kepala geleng-geleng, sampai tepok jidat. Jadi semakin sedikit kamu tahu tentang film ini, sensasinya bakal lebih maksimal. Tapi kalau kamu tim males nonton panjang-panjang, sini saya ceritakan, lesgo!
Culun Sejak Awal
Film ini memang lain dari yang lain, spesial pakai telur. Sebandel-bandelnya mahasiswa, siapa sih yang kepikiran buat curi buku perpustakaan? Iya sih ini buku langka dan punya nilai jual tinggi, tapi ide ini tidak lazim dimiliki oleh maling pada umumnya yang lebih milih mencuri bank, toko elektronik, atau toko perhiasan.
Padahal mereka ini bukan mahasiswa miskin yang butuh uang banget lho. Bahkan salah satu dari mereka adalah turunan pengusaha yang tajir melintir, aman banget! Memang ini semua gara-gara salah pergaulan, jadi baik-baiklah memilih teman ya.
Berawal dari ide iseng, kemudian tergiur dengan potensi keuntungan yang besar, jadilah mereka serius merencanakan pencurian ini. Sampai ngajak teman sang akuntan segala, berharap bisa mendapatkan perspektif yang lebih teliti untuk persiapan perampokan. Terakhir, mereka juga mengajak mahasiswa kaya supaya bisa beli mobil dan mengamankan logistik.
Mereka memilih beraksi di siang hari, karena merasa penjagaan di perpustakaan saat siang itu minim. Kalau malam, untuk masuk ke perpustakaan aja pasti ada satpam dan alarm, belum lagi harus masuk ke ruangan khusus yang simpan buku itu. Ribet, mereka belum belajar cara bobol pintu. Kalau siang kan mereka bisa melenggang masuk tanpa dicurigai, terus ruangan khusus itu hanya dijaga oleh satu orang ibu-ibu. Ya gampanglah tinggal dibikin pingsan, terus ambil deh bukunya. Rencananya begitu.
Sampai tiba di hari H, persiapannya udah maksimal banget. Mereka bahkan sewa baju, wig dan kumis untuk menyamar jadi empat pria tua. Tapi begitu ngintip ruangan khusus yang menyimpan buku tersebut, mereka langsung jiper dan mundur nggak teratur. Culun!
Kegagalan itu bukannya membuat tobat, mereka malah memodifikasi rencana dan tetap beraksi beberapa hari kemudian.
Di upaya kedua, mereka sudah lebih bernyali untuk masuk ke ruangan khusus tersebut. Tapi di detik pertama mau melumpuhkan ibu penjaga perpustakaan aja sudah langsung gemetar. Cemen banget, sampai minta maaf segala ke ibu itu. Tidak lama kemudian, mereka berhasil membungkus buku Audubon, ternyata ukurannya besar dan berat banget bjir! Lalu, dasar manusia tidak ada puasnya, mereka juga mengambil dua buku langka lain, yaitu ensiklopedia “Hortus Sanitatis” plus bukunya Charles Darwin yang judulnya “On the Origin of Species”.
Kebodohan demi Kebodohan
Dua buku terakhir itu ukurannya kecil jadi bisa masuk tas mereka, tapi buku Audubon ini ternyata segede babon, jadi mereka harus gotong berdua. Ruangan khusus itu nyambung ke lift yang bisa membawa mereka ke basement untuk kabur. Tapi di sinilah kebodohan pertama terjadi. Mereka salah pencet nomor lift dan malah pintu terbuka di lantai 1, yang mana saat siang hari tersebut sedang banyak pengunjung perpustakaan. Aduh sedap kalau kata almarhum Gustiwiw.
Kebodohan kedua adalah ketika mereka akhirnya sampai di basement, mereka nggak tahu harus ke mana karena di situ gelap banget! Inilah akibat kurangnya riset, padahal ada mahasiswa akuntan yang katanya teliti banget. Panik, akhirnya mereka meninggalkan buku Audubon dan melarikan diri. Toh nggak rugi-rugi amat karena mereka sudah mengantongi dua buku langka.
Kebodohan selanjutnya adalah ketika mereka bawa salah satu buku langka tersebut ke tempat pelelangan di New York. Tujuannya adalah untuk mendapatkan autentikasi yang menunjukkan keaslian buku tersebut, supaya bisa dijual ke pasar gelap, sekaligus supaya tau kisaran harganya. Berani banget, padahal kan seluruh Amerika udah tau peristiwa perampokan di perpustakaan Transylvania University itu, ibaratnya udah sempat fyp gitu, kejadiannya udah masuk berita.
Lanjut, tempat lelang tersebut membutuhkan waktu untuk mengeluarkan autentikasi sehingga mbak-mbaknya minta nomor HP untuk dihubungi. Sampailah kita ke kebodohan paripurna, salah satu mahasiswa culun ini memberikan nomor HP pribadi ke tempat pelelangan tersebut. Maka selesailah sudah. Mereka ditangkap dan dijebloskan ke bui.
Film ini istimewa bukan hanya karena plot ceritanya yang menarik, tapi sang sutradara Bart Layton juga mengemas film ini dengan sangat cerdas. Ia sedikit mengaburkan batas antara film dengan dokumenter. Bahkan, para tokoh aslinya, tidak hanya sekedar diwawancara, tapi dihadirkan dalam beberapa adegan.
Konsep ini dieksekusi dengan sangat apik. Ditambah dengan sinematografi cantik dan akting pemainnya yang asik, bikin film ini jadi epik! Wajib kamu tonton kalau lagi nggak ada kerjaan.
Leave a Reply