United, sekali lagi, membuat publik Old Trafford frustrasi dalam serangkaian hasil minor belakangan ini. Setelah kekalahan dari Aston Villa akhir pekan lalu dan diikuti penampilan yang tidak optimal dalam kemenangan tipis melawan Villareal, MU kembali menuai hasil negatif usai ditahan imbang Everton.
Gol Anthony Martial pada menit 43 sejatinya menutup babak pertama dengan baik. Solksjaer memainkan Martial sejak menit awal dalam Trio penyerang bersama Cavani dan Greenwood.
Di pertandingan ini Solksjaer melakukan rotasi lima pemain starting eleven dari skuad kemenangan tengah pekan melawan Villareal. Dia mengistirahatkan Ronaldo dan Pogba serta mengembalikan Luke Shaw dan Wan-Bissaka ke posisinya.
Pada babak kedua, alih-alih menambah keunggulan United justru kecolongan oleh gol Andros Towsend pada menit 65. Gol ini lahir dari sebuah serangan balik setelah MU mendapat sepak pojok dan bola halauan dari lini belakang Everton mampu dikuasai oleh Abdoulaye Doucoure yang kemudian memberikan umpan kepada Towsend.
Gol balasan dari Everton menunjukan betapa payahnya MU, tidak hanya dalam hal mengantisipasi serangan balik tetapi juga koordinasi antar lini saat terjadinya set play. Fred yang kembali dipasang bersama Mc Tominay kembali menunjukan ketidakmampuannya dalam mematikan lawan. Dia pantas dikritik atas keputusannya untuk tidak menghentikan pergerakan Demarai Gray sehingga bola akhirnya sampai ke area pertahanan United.
Fakta lain setelah terjadinya gol Everton adalah pergantian pemain yang dilakukan oleh Solksjaer. Dia memasukan Ronaldo dan Sancho dan menarik Cavani dan Martial. Meskipun kedua pemain yang dimasukkan sama-sama tampil cukup bagus. Keputusan Solksjaer atas Cavani menunjukan kelemahannya dalam membaca permainan. Seharusnya dia mengeluarkan Greenwood yang sejak tiga pertandingan terakhir bermain buruk dan mempertahankan Cavani untuk menyokong Ronaldo.
Setelah mengganti Cavani yang sejak babak pertama sangat energik di area pertahanan Everton, tidak ada lagi pemain yang mengisi posisinya tersebut. Ronaldo berusaha mencari gol untuk dirinya sendiri, tetapi cenderung memulainya dari sisi kiri bersamaan dengan Sancho. Beberapa kombinasi diciptakan kedua pemain ini, namun tidak adanya sosok yang menekan bek tengah Everton membuat pertahanan The Toffees dengan mudah menghalau serangan United.
Hingga babak kedua berakhir, MU tampil seperti macan ompong.
Sudah waktunya Fred dicadangkan
Solksjaer sepertinya cuma punya satu opsi mengenai lini tengah MU yaitu dengan melibatkan peran double pivot melalui Mc Tominay dan Fred. Ole secara konsisten menyia-nyiakan banyak bakat besar di kubu setan merah. Padahal dia punya Pogba yang bisa dimaksimalkan potensinya sebagai baller sekaligus pengumpan. Dia bahkan kebingungan memberikan peran berarti kepada sosok Donny Van de Beek.
Kritik tentang taktik yang diterapkan MU kerap dilontarkan, termasuk dari mantan pemainnya seperti Roy Keane yang secara jelas menyinggung peran double pivot MU yang tidak memberikan nilai tambah.
Fred sendiri tidak memiliki kapasitas ekstra, selain fakta bahwa dia memiliki etos kerja yang diandalkan oleh Solskjaer. Tetapi kerja keras tanpa visi, membuat pemain Brazil itu menjadi sasaran kemarahan fans setan merah. Dan bukan tanpa alasan, pertandingan kemarin membuktikan sekali lagi Fred harus dicadangkan.
Setelah masalah lini tengah dan defence mampu diatasi Ole tanpa menyertakan Fred, selanjutnya memaksimalkan lini serang mereka yang penuh talenta. Jika merujuk empat hingga lima pertandingan ke belakang, penyerangan MU tidak benar-benar menakutkan sebagaimana kekhawatiran lawan terhadap pengaruh Ronaldo. Padahal mereka punya empat penyerang hebat yang pada musim lalu cukup produktif. Tambahan opsi penyerangan dalam diri Ronaldo dan Sancho justru memadamkan seluruh kemampuan mereka, termasuk Greenwood yang digadang-gadang sebagai finisher mematikan.
Lantas, bagaimana Ole bisa membawa Ronaldo dkk. ke level yang diharapkan?
Selebrasi Andros Towsen Tiru Ronaldo
Setelah menembak bola ke sisi kanan De Gea, Andros Towsen berlari ke arah penonton Everton lalu melakukan selebrasi ala Ronaldo. Selepas pertandingan, Towsend menjelaskan alasan mengapa dia melakukan selebrasi siu-nya Ronaldo.
“Bukan untuk meniru. Selebrasi itu adalah bentuk respek saya kepada sosok yang memengaruhi karier saya,” katanya kepada BT Sport. Dia mengungkapkan bahwa sebelumnya dia telah berlatih gerakan tersebut untuk didedikasikan kepada Ronaldo atas jasanya terhadap sepakbola.
“Jadi bukan soal meniru, tetapi ungkapan penghormatan kepada salah satu idola saya. Tetapi sepertinya saya tidak melakukan selebrasi itu dengan benar.”
(W2)
Leave a Reply