Kalau anak muda jaman sekarang dikit-dikit butuh healing, mereka semua harus minggir. Sebab ada The Batman versi Robert Pattinson yang paling butuh healing.
Sempat diragukan karena pemilihan tokoh utamanya yang merupakan mantan vampir, ternyata film The Batman arahan sutradara Matt Reeves ini berhasil mendapat sambutan positif. Bahkan memuncaki Box Office di Amerika selama tiga minggu berturut-turut.
Lebih Senja dari Anak Senja
“They think I’m hiding in the shadows, but I am the shadows.”
Batman
Gimana? Senja banget kan kutipan di atas. The Batman memang menyuguhkan sosok superhero berlambang kelelawar yang beda dari franchise terdahulunya. Nuansa film sangat dark, slow-burn, depresif, namun tidak membosankan walaupun berdurasi nyaris tiga jam.
Bruce Wayne (Robert Pattinson) di film ini baru menjalani kehidupan awal sebagai Batman yang bercita-cita menumpas kejahatan di Gotham. Namun tentu tidak semudah itu.
Kasus pertama adalah kematian Walikota Don Mitchell Jr (Rupert Penry-Jones). Pelakunya sengaja meninggalkan surat untuk Bruce yang isinya berupa petunjuk tentang korban berikutnya.
Berbagai cara dilakukan untuk mengungkap petunjuk tersebut. Mulai dari menganalisa di batcave-nya yang gelap, sampai menggerebek tempat dugem yang dijaga oleh Penguin (Collin Farrell), lalu bertemu dengan Catwoman (Zoe Kravitz) yang bekerja di situ, termasuk berhadapan dengan kepala mafia Falcone (John Turturro).
Seluruh kemampuan detektif Bruce dikerahkan, namun tak bisa membuatnya mencegah kematian-kematian berikutnya. Korban baru, petunjuk baru, teka-teki baru. Semua adalah ulah The Riddler yang diperankan dengan sangat apik oleh Paul Dano.
Bukan Crazy Rich
Tokoh Bruce Wayne di film ini lebih sibuk memecahkan kasus korupsi dan pembunuhan di Gotham. Walaupun jelas-jelas Bruce anak orang kaya, namun di sini gayanya sama sekali jauh dari label crazy rich. Ia tidak berpesta, tidak punya pacar, atau punya batcave yang super canggih seperti di The Dark Knight. Apa lagi niat beli bank cuma buat mengembalikan lahan pertanian milik Clark Kent seperti di Justice League.
Jadi buat kamu yang belum menonton film ini, jauh-jauhkan bayanganmu dari film-film Batman yang terdahulu. The Batman jauh lebih dark, lebih misterius, tapi tetap seru.
Seluruh unsur sinematografi mendukung nuansa kelam dalam film The Batman. Mulai dari tone warna, pemilihan kostum, make-up, termasuk musik. Bahkan sepanjang film, Gotham seperti tidak pernah cerah. Kalau nggak mendung, hujan, senja, ya malam gelap.
Dengan semua kekelaman itu, ditambah segala misteri dan fakta-fakta busuk tentang Gotham (dan Bruce?), setuju dong kalau Batman sudah pasti sangat butuh healing. Selamat menonton dan selamat datang di dunia suram Batman!
(AA)
Leave a Reply